back to top
Senin, 3 Agustus 2026

PHR Siapkan Pengembangan Migas Non Konvensional Pertama di Indonesia, Targetkan Appraisal Akhir 2026

Kegiatan

Jakarta — PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) terus mematangkan langkah pengembangan migas non konvensional (MNK) di Blok Rokan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Proyek yang mencakup Sumur Gulamo DET-1 dan Sumur Kelok DET-1 tersebut diproyeksikan menjadi pengembangan migas non konvensional pertama di Indonesia yang memasuki tahap pembuktian konsep (appraisal), setelah sebelumnya berhasil mencatatkan temuan sumber daya yang dinilai signifikan. Informasi mengenai kesiapan menuju tahap appraisal juga sejalan dengan keterangan resmi Pertamina Hulu Energi (PHE) pada 2025 yang menyebut Gulamo dan Kelok telah memasuki tahap eksplorasi lanjutan setelah dinyatakan sebagai discovery.

Direktur Utama PHR Muhammad Arifin mengatakan perusahaan tengah menyiapkan tahapan pengembangan reservoir baru yang selama ini belum dapat diproduksikan melalui metode konvensional. Menurutnya, pengembangan migas non konvensional menjadi salah satu terobosan untuk mempertahankan pasokan energi nasional di tengah tantangan penurunan produksi lapangan konvensional.

“Bahkan kalau di Rokan kami pun insya Allah entering a new business di salah satu reservoir yang baru saja kita temukan yaitu kita sebut migas non konvensional. Which is ini insya Allah yang pertama di Indonesia untuk kita kembangkan demi mempertahankan kebutuhan energi nasional,” kata Muhammad Arifin dalam Energy Corner CNBC Indonesia, dikutip Senin (13/7/2026).

PHR mencatat temuan tersebut memiliki sumber daya kategori 2C hampir 740 juta barel setara minyak, yang disebut sebagai salah satu penemuan terbesar di Indonesia dalam satu dekade terakhir.

“Alhamdulillah temuan 2C-nya, sumber dayanya cukup besar dan dalam 10 tahun terakhir itu termasuk yang paling besar di lapangan-lapangan minyak sebesar hampir 740 juta barrels oil equivalent,” tambahnya.

Berbeda dengan migas konvensional yang dapat mengalir secara alami setelah pengeboran, pengembangan MNK memerlukan teknologi multi-stage fracturing untuk membuka rekahan pada batuan sehingga hidrokarbon dapat diproduksikan. PHR sebelumnya juga menjelaskan bahwa tahapan eksplorasi lanjutan akan menggunakan teknologi Long Horizontal dan Multi-Stage Hydraulic Fracturing untuk membuktikan produktivitas reservoir sebelum pengembangan penuh dilakukan.

Saat ini, PHR masih menunggu persetujuan kontrak bagi hasil (KBH) baru dari pemerintah sebagai dasar pelaksanaan pengeboran sumur appraisal.

“Kita harapkan di bulan Juli ini kita mendapatkan persetujuan KBH sehingga insya Allah nanti di bulan Desember tahun 2026 ini kita lakukan pengeboran tajak sumur appraisal yang pertama,” ujar Arifin.

Apabila seluruh tahapan pembuktian teknologi berjalan sesuai rencana, lapangan migas non konvensional di Blok Rokan diproyeksikan mampu mencapai produksi puncak sekitar 40.000–50.000 barel minyak per hari.

“Mudah-mudahan MNK lapangan di Rokan ini bisa berkontribusi sampai nanti peak-nya di 40 sampai 50 ribu barrels oil per day buat negara,” tandasnya.

Dukungan terhadap pengembangan migas non konvensional juga datang dari pemerintah. Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyampaikan bahwa pemerintah bersama SKK Migas tengah mempercepat penyelesaian kerangka regulasi untuk mendukung implementasi MNK. Menurutnya, pengembangan migas non konvensional menjadi salah satu strategi meningkatkan produksi migas nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

“Jadi untuk ini (MNK) sudah ada kajian awal yang dilakukan oleh Pertamina Hulu Rokan untuk pengembangan non konvensional ini. Jadi kita mengharapkan peningkatan produksi itu relatif signifikan,” ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jumat (5/6/2026).

Ia juga menyebut pemerintah sedang membahas berbagai opsi teknologi bersama para penyedia teknologi dan SKK Migas, dengan target penyelesaian kerangka regulasi agar implementasi awal pengembangan MNK dapat segera dimulai.

Secara strategis, pengembangan migas non konvensional di Blok Rokan menjadi langkah penting dalam diversifikasi sumber produksi minyak nasional. Di tengah semakin matangnya lapangan-lapangan migas konvensional, keberhasilan proyek ini berpotensi membuka akses terhadap sumber daya yang selama ini sulit diproduksikan serta memperkuat pasokan energi domestik dalam jangka panjang. Namun demikian, keberhasilan tersebut akan sangat bergantung pada pembuktian teknis melalui sumur appraisal, kepastian regulasi, serta keberhasilan penerapan teknologi yang dibutuhkan agar sumber daya yang telah ditemukan dapat dikonversi menjadi produksi komersial.

Pengembangan MNK sebagai Terobosan Menjaga Ketahanan Energi

Pengembangan migas non konvensional (MNK) di Blok Rokan menandai babak baru dalam upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Ketika banyak lapangan migas konvensional telah memasuki fase penurunan produksi alami (natural decline), pemanfaatan sumber daya yang selama ini sulit diproduksikan menjadi salah satu pilihan strategis untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi domestik. Jika berhasil, proyek ini tidak hanya akan menambah sumber produksi baru, tetapi juga menunjukkan bahwa Indonesia mampu mengoptimalkan potensi migas melalui penerapan teknologi yang lebih maju.

Nilai strategis MNK tidak hanya terletak pada besarnya potensi sumber daya, tetapi juga pada kemampuannya memperluas basis produksi nasional tanpa harus bergantung sepenuhnya pada penemuan lapangan konvensional baru. Keberhasilan pengembangan di Blok Rokan dapat menjadi bukti bahwa sumber daya yang sebelumnya dianggap kurang ekonomis dapat dikembangkan secara komersial dengan dukungan teknologi yang tepat. Pengalaman tersebut berpotensi menjadi model bagi pengembangan sumber daya serupa di wilayah lain, sekaligus memperkuat portofolio energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan tantangan menjaga keseimbangan antara produksi domestik dan impor.

Namun demikian, optimisme tersebut harus dibarengi dengan kehati-hatian. Pengembangan MNK memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi dibandingkan migas konvensional karena memerlukan teknologi khusus, investasi yang besar, serta proses pembuktian teknis yang panjang sebelum mencapai tahap produksi komersial. Oleh karena itu, keberhasilan proyek ini tidak hanya ditentukan oleh besarnya potensi sumber daya, tetapi juga oleh kemampuan membuktikan produktivitas reservoir, memastikan keekonomian proyek, serta mengelola risiko teknis selama tahap appraisal dan pengembangan.

Di sisi lain, dukungan kebijakan akan menjadi faktor yang sama pentingnya dengan kesiapan teknologi. Kepastian kerangka regulasi, skema kontrak bagi hasil yang kompetitif, serta koordinasi yang erat antara pemerintah, SKK Migas, dan pelaku usaha akan menentukan daya tarik investasi di sektor ini. Apabila seluruh aspek tersebut dapat berjalan selaras, pengembangan MNK berpotensi menjadi tonggak penting dalam diversifikasi sumber produksi migas Indonesia, memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus membuka peluang pemanfaatan sumber daya yang selama ini belum memberikan nilai tambah bagi perekonomian.

sumber: CNBC Indonesia, Pertamina, ESDM

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Populer

Setahun Tiga Angka Nikel: RKAB 270 Juta Ton, Target 209 Juta Ton, Realita PHK di Daerah

Dalam tempo kurang dari dua bulan, kebijakan produksi nikel Indonesia untuk 2026 bergeser dari sinyal awal menjadi keputusan resmi....
- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

- Advertisement -spot_img