Lima bulan sejak Amerika Serikat dan Israel berperang melawan Iran akhir Februari lalu, harga minyak dunia ternyata jauh lebih tenang dibanding perkiraan awal pasar. Saat perang pecah, analis memperkirakan harga minyak mentah bisa melonjak ke 150 dolar AS per barel, bahkan berpotensi mencapai 200 dolar, mengingat seperlima pasokan minyak dunia yang melintasi Selat Hormuz terancam terputus total. Realitasnya, Brent crude futures memang sempat menembus 126 dolar AS per barel pada akhir April — level tertinggi dalam empat tahun terakhir — namun masih di bawah rekor tertinggi sepanjang masa pada 2008 yang mencapai 147 dolar. Rata-rata harga sepanjang periode 28 Februari hingga 11 Juni, ketika Presiden AS Donald Trump menghentikan serangan ke Iran, tercatat 101 dolar AS per barel. Harga bahkan sempat kembali ke level sebelum perang, sekitar 70 dolar AS, pada awal Juli.

Reuters mencatat sejumlah faktor yang menahan lonjakan harga tersebut. China, sebagai importir minyak terbesar dunia, justru memangkas impor minyak mentahnya ke level terendah dalam hampir satu dekade pada Juni — data bea cukai China bahkan menunjukkan penurunan hingga 41 persen dibanding tahun sebelumnya, seiring pengurangan ekspor bahan bakar, peralihan warganya ke taksi listrik, dan penurunan volume di sektor petrokimia. Di sisi lain, Amerika Serikat sebagai produsen minyak terbesar dunia justru menggenjot produksi hingga mencapai rekor 13,93 juta barel per hari pada April, menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA), sekaligus melepas cadangan dari Strategic Petroleum Reserve sebagai bagian dari pelepasan cadangan darurat sebesar 400 juta barel yang dikoordinasikan International Energy Agency (IEA) pada Maret — pelepasan terbesar dalam sejarah lembaga itu.

Faktor lain yang turut meredam gejolak adalah pola pernyataan Trump yang berulang kali mematahkan posisi optimistis pelaku pasar dengan sinyal perdamaian dan pembukaan kembali Selat Hormuz, sehingga likuiditas pasar menyusut dan trader enggan memasang posisi beli besar. “Everybody is bullish now, but nobody is long,” kata Ilia Bouchouev dari Oxford Institute for Energy Studies. Arab Saudi turut menambah pengiriman lewat pelabuhan Yanbu di Laut Merah untuk menutupi hilangnya volume dari Hormuz — aliran di selat itu sempat pulih pada Juni, meski kembali turun pada Juli seiring memanasnya kembali pertempuran. Pedagang menyebut pasokan fisik minyak yang tersedia saat ini masih melimpah, sehingga meredam reaksi harga terhadap eskalasi konflik terbaru. “There is a lot of prompt crude around for now,” kata trader veteran Adi Imsirovic. “It may not last!”
Dinamika ini relevan bagi Indonesia karena formula Indonesian Crude Price (ICP) dan harga jual eceran BBM nonsubsidi seperti Pertamax mengacu pada pergerakan harga minyak mentah dan produk BBM di pasar internasional, termasuk benchmark Brent. Bila harga minyak dunia tetap tertahan di kisaran moderat — jauh dari skenario ekstrem 150–200 dolar AS per barel yang sempat dikhawatirkan saat perang pecah — tekanan terhadap anggaran subsidi energi dan penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri berpotensi lebih terkendali dibanding proyeksi awal. Namun perlu diingat, judul asli artikel Reuters menyertakan kata “Yet” (belum) — sinyal bahwa kondisi ini dianggap redaksi sebagai situasi sementara, bukan kepastian jangka panjang, mengingat konflik kembali memanas pada Juli setelah gencatan senjata sebelumnya runtuh.
Harga Belum Naik Tajam Bukan Berarti Risiko Sudah Hilang — Ketenangan Ini Bisa Berumur Pendek
Data yang menunjukkan harga minyak dunia jauh di bawah proyeksi ekstrem $150–200 per barel memang melegakan, tapi ada baiknya pembuat kebijakan energi tidak buru-buru menariknya sebagai sinyal bahwa era harga tinggi sudah lewat. Faktor utama yang menahan harga selama ini — anjloknya impor minyak China ke level terendah dalam hampir satu dekade — bukanlah bukti bahwa permintaan global benar-benar menyusut. China memasuki perang ini dengan stok minyak yang sudah ditimbun besar-besaran sebelumnya, dan kilang-kilangnya menahan diri membeli karena harga dianggap terlalu mahal, bukan karena kebutuhan energinya hilang. Begitu stok itu menipis, atau begitu Beijing memutuskan saatnya mengisi ulang cadangan strategis, permintaan dari importir minyak terbesar dunia ini berpotensi kembali melonjak — dan pasar yang selama ini terbantu oleh “absennya” pembeli sebesar China bisa kembali gelisah.
Situasi di lapangan pun belum benar-benar tenang. Konflik AS-Iran, yang menjadi pemicu awal seluruh kekhawatiran ini, belum selesai. Gencatan senjata yang sempat berlaku pertengahan tahun runtuh, dan pada Juli pertempuran kembali memanas — mencakup serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz hingga fasilitas minyak di Kuwait. Ini bukan detail kecil: Selat Hormuz adalah jalur yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia, dan setiap kali jalur ini terganggu, harga terbukti bisa melonjak tajam dalam hitungan hari, seperti terlihat saat Brent sempat menembus $126 per barel di akhir April. Faktor-faktor lain yang disebut menahan harga — pelepasan cadangan strategis oleh IEA, lonjakan produksi minyak AS — sifatnya juga sementara. Cadangan strategis tidak bisa terus-menerus dikuras, dan produksi rekor AS pun didorong oleh harga tinggi yang justru sudah mulai mereda; jika harga turun lebih jauh, insentif produsen AS untuk terus menggenjot output juga akan melemah.
Yang dipertaruhkan di sini adalah bagaimana pembuat kebijakan — termasuk di Indonesia — menerjemahkan “ketenangan” pasar ini ke dalam perencanaan jangka menengah. Asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN dan keputusan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax sangat bergantung pada pergerakan harga minyak global. Jika perencanaan anggaran subsidi energi disusun dengan asumsi harga akan tetap moderat berdasarkan data lima bulan terakhir, ada risiko nyata: begitu impor China pulih atau eskalasi di Timur Tengah kembali memburuk, ruang fiskal yang sudah dihitung berdasarkan asumsi harga rendah bisa cepat tergerus. Kombinasi dua faktor tidak pasti — permintaan China yang tertunda, bukan hilang, dan konflik yang belum benar-benar padam — seharusnya membuat perencanaan energi nasional menyisakan margin keamanan, bukan berpatokan pada skenario harga minyak yang saat ini terlihat jinak.
Pada akhirnya, ketenangan harga minyak dalam lima bulan terakhir lebih tepat dibaca sebagai jeda yang ditopang oleh kombinasi kebetulan — stok besar China, cadangan strategis yang belum habis, dan produsen AS yang sedang berproduksi maksimal — ketimbang bukti struktural bahwa pasar minyak sudah lebih tahan guncangan. Kombinasi faktor penahan ini bisa terurai lebih cepat dari yang diperkirakan, dan ketika itu terjadi, negara-negara importir minyak seperti Indonesia perlu sudah memiliki bantalan kebijakan, bukan baru mulai menghitung ulang di tengah lonjakan harga berikutnya.
sumber: reuters

