back to top
Selasa, 22 September 2026

Detail Kesepakatan Minyak Venezuela Terungkap: Pentagon Pegang 35% Saham, Konsesi 100 Tahun

Kegiatan

Washington/Caracas — Gedung Putih akhirnya merilis rincian resmi kesepakatan minyak antara Amerika Serikat dan Venezuela, tiga hari setelah Presiden Donald Trump pertama kali mengumumkannya sebagai “kesepakatan minyak terbesar dalam sejarah dunia”. Fact sheet yang dipublikasikan larut malam Senin (31/8/2026) waktu AS itu mengonfirmasi kendali AS atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak terbukti Venezuela — sekitar seperlima dari total cadangan negara itu — sekaligus mengungkap struktur kepemilikan yang sebelumnya dirahasiakan.

Siapa NABEP, dan apa yang didapat AS

Operator utama kesepakatan ini adalah North American Blue Energy Partners (NABEP), perusahaan minyak swasta terbesar kedua di Venezuela yang dimiliki pengusaha Alejandro Betancourt. Pemerintah sementara Venezuela memberikan NABEP konsesi 100 tahun untuk mengoperasikan 17 ladang minyak dengan cadangan terbukti sekitar 65 miliar barel — banyak di antaranya sebelumnya dikelola perusahaan asal Rusia dan China.

Sebagai bagian dari kesepakatan, NABEP memberi Kantor Modal Strategis di Departemen Perang (dulu Kementerian Pertahanan) AS 35% saham ekuitas di perusahaan induknya. Departemen Luar Negeri AS juga mendapat hak membeli 20% dari seluruh hasil produksi — baik ladang yang sudah maupun akan beroperasi — dengan harga produksi (at cost), plus hak penolakan pertama (right of first refusal) atas 80% sisa produksi.

Gedung Putih menyebut pemerintah AS memegang hak veto atas pengangkatan anggota dewan direksi NABEP, dan mayoritas direktur harus warga negara AS. Kesepakatan ini juga tunduk pada hukum AS dan yurisdiksi pengadilan AS — bukan hukum Venezuela.

Ada perbedaan angka soal durasi

Menariknya, ada ketidaksesuaian kecil antara narasi kedua negara. Dalam pidatonya akhir pekan lalu, Presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez menyebut kesepakatan ini sebagai perjanjian 25 tahun. Namun fact sheet Gedung Putih secara eksplisit menyebut konsesi 100 tahun untuk NABEP mengoperasikan 17 ladang tersebut — angka 25 tahun dalam dokumen AS sebenarnya merujuk pada jangka waktu proyeksi pembayaran royalti dan pajak senilai US$200 miliar dari NABEP ke pemerintah Venezuela, bukan lama konsesinya.

Motif geopolitik: mengisi ulang cadangan strategis AS dan “Doktrin Monroe”

Gedung Putih secara terbuka mengaitkan kesepakatan ini dengan upaya mengisi ulang Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS, yang berada di titik terendah sejak 1982 setelah AS melepas 130 dari 172 juta barel cadangannya selama konflik dengan Iran. Fact sheet itu juga membingkai kesepakatan sebagai upaya menegakkan kembali “Doktrin Monroe” — mengusir pengaruh Rusia dan China dari sektor energi Amerika Latin, yang menurut Washington selama ini “menjarah sumber daya Venezuela untuk kepentingan Kuba, Rusia, dan China”.

NABEP sendiri berencana menggelontorkan investasi hingga US$100 miliar untuk infrastruktur minyak baru, dengan target jangka pendek menaikkan produksi dari sekitar 200 ribu barel/hari saat ini menuju lebih dari 1 juta barel/hari — jauh di bawah target 1,5 juta barel/hari yang disebut Rodriguez sebagai tujuan akhir proyek.

Skeptisisme: realitas di lapangan jauh dari klaim di atas kertas

Sejumlah analis energi meragukan kelancaran implementasi kesepakatan ini. Pertanyaan utama: apakah Rodriguez, sebagai presiden sementara (bukan hasil pemilu penuh), punya kewenangan hukum untuk mengikat Venezuela pada konsesi berdurasi satu abad — dan apakah pemerintahan berikutnya, baik di Venezuela maupun AS, bisa membatalkannya di kemudian hari.

Realitas produksi juga jadi sorotan. Produksi minyak Venezuela saat ini hanya sekitar 1,2 juta barel/hari — jauh dari puncak 3,5 juta barel/hari sebelum era sosialis akhir 1990-an. Infrastrukturnya yang rusak parah akibat bertahun-tahun kurang investasi memerlukan perbaikan besar sebelum target produksi baru bisa tercapai. Bahkan Trump sendiri mengakui bahwa masyarakat AS belum akan langsung merasakan dampak penurunan harga bensin dari kesepakatan ini.

Di sisi lain, Chevron — operator swasta terbesar di Venezuela dengan produksi sekitar 260 ribu barel/hari — dilaporkan turut memperluas operasinya di Cekungan Orinoco, mengikuti kerangka hukum hidrokarbon baru Venezuela yang didukung AS, menandakan geliat investasi asing yang lebih luas menyusul kesepakatan NABEP ini.

Sumber: Fact sheet Gedung Putih (31/8/2026), pernyataan Truth Social Presiden Trump (28/8), pidato Presiden sementara Delcy Rodriguez yang dilansir Al Jazeera (30/8 & 1/9), CBS News, CNBC, NBC News, CNN Business, dan Fortune (28/8–1/9/2026).

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Populer

Setahun Tiga Angka Nikel: RKAB 270 Juta Ton, Target 209 Juta Ton, Realita PHK di Daerah

Dalam tempo kurang dari dua bulan, kebijakan produksi nikel Indonesia untuk 2026 bergeser dari sinyal awal menjadi keputusan resmi....
- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

- Advertisement -spot_img