back to top
Rabu, 10 Juni 2026

Cisem II Resmi Beroperasi Penuh: Pipa Gas 242 Km Hubungkan Jawa Tengah dan Jawa Barat

Kegiatan

Pipa Transmisi Gas Bumi Ruas Batang-Cirebon-Kandang Haur Timur (Cisem II) resmi beroperasi penuh setelah prosesi commissioning tahap akhir di Stasiun Kandang Haur Timur, Jawa Barat, Sabtu (6/6/2026). Infrastruktur sepanjang 242 kilometer yang membentang dari Batang, Jawa Tengah, hingga ujung barat di Kandang Haur Timur itu kini terhubung penuh dengan fasilitas operasi eksisting PT Pertamina Gas (Pertagas), menandai selesainya salah satu Proyek Strategis Nasional di sektor energi.

[CATATAN REDAKSI: Beberapa sumber sebelumnya, termasuk siaran pers Kementerian ESDM dan liputan CNBC Indonesia (Desember 2025), menyebut panjang pipa Cisem II sebagai 245 km. Angka 242 km merujuk pada teks sumber berita ini — detikFinance, 8 Juni 2026. Perbedaan ini sebaiknya dikonfirmasi ke Kementerian ESDM atau Pertagas sebelum publikasi.]

Commissioning Cisem II dilaksanakan dalam dua tahapan. Tahap pertama berlangsung pada pertengahan Maret 2026 di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Jawa Tengah, dan menjadi titik awal pengujian operasional dari sisi hulu. Tahap kedua yang baru dirampungkan di Kandang Haur Timur memastikan kesiapan sistem secara menyeluruh dari ujung ke ujung. Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman hadir langsung dalam seremoni commissioning dan menyatakan tonggak ini memperkuat integrasi jaringan pipa gas bumi nasional. “Hari ini kita menyaksikan commissioning Cisem II yang semakin memperkuat integrasi jaringan pipa gas bumi nasional. Infrastruktur ini akan meningkatkan fleksibilitas penyaluran gas dan memperkuat keandalan pasokan energi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (8/6/2026). Lebih jauh, Laode menyebut integrasi ini akan memungkinkan distribusi gas dari berbagai sumber pasokan ke pusat-pusat konsumsi energi, termasuk industri, pembangkit listrik, kilang, pupuk, dan sektor strategis lainnya.

Dua entitas BUMN di bawah ekosistem Pertamina Group turut menyuarakan kepentingan masing-masing. Direktur Komersial PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk Aldiansyah Idham menyatakan commissioning ini menjadi momentum penting bagi pengembangan sistem gas bumi nasional yang makin terintegrasi. “Infrastruktur ini memungkinkan sistem penyaluran gas menjadi semakin fleksibel dan terintegrasi, sekaligus memperkuat keandalan pasokan energi nasional,” ujarnya. Sementara Direktur Utama Pertagas Indra P. Sembiring, selaku operator pipa, menegaskan bahwa beroperasinya Cisem II akan memperkuat konektivitas dan fleksibilitas operasi sistem transmisi gas. “Kehadiran Cisem II akan semakin memperkuat konektivitas jaringan pipa gas bumi nasional serta meningkatkan fleksibilitas operasi sistem transmisi gas,” katanya.

Cisem II bukan sekadar pipa baru — ia merupakan tautan yang menyambungkan dua segmen jaringan transmisi Jawa yang sebelumnya terputus. Pipa Cisem Tahap I (ruas Semarang-Batang) telah selesai dibangun pada 2023 dan beroperasi mengalirkan gas ke KITB. Cisem II melanjutkan koridor tersebut ke arah barat hingga Kandang Haur Timur, titik simpul Pertagas yang menghubungkan ke jaringan distribusi Jawa Barat. Dengan selesainya Cisem II, koridor transmisi gas dari Jawa Timur — yang memasok gas dari Lapangan Jambaran Tiung Biru (JTB) dan potensi wilayah kerja lain di Jawa Timur — kini memiliki jalur terusan menuju konsumen besar di Jawa Barat, termasuk Kilang Balongan, Pupuk Kujang, dan kawasan industri di sepanjang pantai utara. Proyek ini berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai kontrak sekitar Rp 2,7–2,8 triliun, dikerjakan oleh KSO PT Timas Suplindo dan PT Pratiwi Putri Sulung, dengan konstruksi dimulai September 2024 dan seluruh material pipa diproduksi dalam negeri (TKDN 100% untuk komponen pipa).

Sinergi BUMN — Model Koordinasi atau Sekadar Protokol?

Commissioning Cisem II menampilkan sesuatu yang jarang terlihat secara eksplisit dalam proyek infrastruktur energi: tiga lembaga — regulator (Kementerian ESDM), operator transmisi (Pertagas), dan niaga gas (PGN) — hadir bersama dalam satu momentum dan berbicara dengan nada yang selaras. Di permukaan, ini terlihat sebagai bukti sinergi BUMN yang berjalan. Namun, justru di sinilah pertanyaan editorial yang lebih substansial muncul.

Pertagas dan PGN adalah dua entitas yang secara struktural berada dalam satu payung Pertamina Group, namun bergerak di segmen berbeda: Pertagas sebagai operator midstream (pipa transmisi) dan PGN sebagai perusahaan niaga dan distribusi gas. Kehadiran keduanya dalam satu proyek yang sama bukan anomali — ini adalah arsitektur yang memang dirancang. Pertanyaannya adalah: apakah koordinasi yang terlihat pada hari commissioning ini mencerminkan integrasi operasional yang sesungguhnya, ataukah ia lebih merupakan protokol komunikasi yang rapi dari dua entitas yang sesungguhnya masih berjalan dengan kepentingan bisnis masing-masing?

Publik dan pelaku industri tidak mendapatkan jawaban dari keterangan yang tersedia. Tidak ada informasi mengenai skema offtake gas Cisem II — siapa yang membeli, berapa volume, dengan tarif seperti apa. Tidak ada data mengenai kapasitas throughput pipa atau tingkat utilisasi yang ditargetkan. Klausul bagi hasil antara Pertagas sebagai pemilik pipa dan PGN sebagai salah satu pengguna jaringan juga tidak diungkapkan. Ketiga pernyataan pejabat yang dikutip dalam berita ini menggunakan diksi yang hampir identik — “fleksibilitas”, “integrasi”, “keandalan” — tanpa satu pun angka operasional yang dapat diverifikasi publik.

Ini bukan kritik atas proyek infrastrukturnya, yang secara teknis tampak merupakan pencapaian nyata. Ini adalah pertanyaan tentang akuntabilitas narasi BUMN: kapan sinergi berhenti menjadi konsep dan mulai bisa diukur? Bagi editor yang ingin mengembangkan sudut pandang ini, pertanyaan kunci yang layak diajukan ke Kementerian ESDM, Pertagas, dan PGN adalah: berapa volume gas yang akan dialirkan melalui Cisem II per hari, dan siapa konsumen pertamanya?

Sumber: detikFinance

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Populer

Baja “Ingat Bentuk” untuk Beton: Kapan Tahan, Kapan Rentan

Pusat Riset Metalurgi BRIN merampungkan pengujian ketahanan korosi shape memory alloy steel — baja yang bisa "mengingat" dan kembali...
- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

- Advertisement -spot_img