back to top
Selasa, 22 September 2026

PLTS di Sepanjang Tol Jasa Marga: Solusi Cerdik yang Butuh Mitigasi Serius

Kegiatan

PLN berencana membangun PLTS sepanjang 802 km di sisi kiri-kanan jalan tol Jasa Marga, dengan estimasi kapasitas 0,5 GWp dan sistem baterai 1,5 GWh. Proyek ini juga akan dikombinasikan dengan PLTB di ruas Tol Bali Mandara.

PLN menunjukkan semangat tinggi untuk mengeksekusi RUPTL 2025-2034. Salah satu program yang sedang direncanakan adalah pembangunan PLTS dengan memanfaatkan sisi kanan dan kiri jalan tol sepanjang 802 km, melalui Kerja sama dengan Jasa Marga. Memang patut diacungi jempol bahwa memanfaatkan lahan “nganggur” milik negara merupakan strategi yang jitu dalam menurunkan Biaya Pokok Penyediaan. Tidak hanya itu, proses pembangunan pun akan jauh lebih cepat, karena lahan sudah tersedia.

Namun, ada beberapa faktor yang mungkin perlu diperhatikan:

  1. Pelebaran Jalan Tol

Perlu mempertimbangkan masterplan dari pengelola jalan tol, apakah akan ada rencana pelebaran jalan seiring dengan meningkatnya arus kendaraan, setidaknya dalam 15 tahun ke depan. Jika ada pelebaran jalan tol, maka pembongkaran infrastruktur kelistrikan beresiko tinggi merusak panel dan modul surya yang sensitif. Belum lagi gangguan/kerugian operasional selama pembongkaran dan pemasangan kembali.

  1. Keamanan Pengguna Jalan Tol

Jalan tol senantiasa dilalui arus kendaraan berkecepatan tinggi. Sementara itu, distraksi visual dari deretan panel surya yang masif berpotensi memecah konsentrasi pengemudi di jalur cepat. Kilauan pantulan cahaya sinar matahari dapat menyebabkan kebutaan sementara (glare blindness). Hal ini meningkatkan resiko kecelakaan lalu lintas yang membahayakan keselamatan pengguna jalan.

  1. Keamanan Instalasi

Jika terjadi kecelakaan yang mengakibatkan kendaraan ke luar jalur tol dan menabrak struktur penyangga PLTS, tentunya sangat berbahaya bagi instalasi PLTS itu sendiri. Selain kerusakan instalasi, hal ini juga akan menimbulkan gangguan operasional.

  1. Resiko Teknis dan Operasional/Pemeliharaan.
  • Penurunan Efisiensi Panel Surya

Padatnya lalu lintas dengan kecepatan tinggi menyebabkan akumulasi debu dan asap gas buang kendaraan bermotor. Ini mengakibatkan panel surya cepat kotor dan dapat menurunkan efisiensinya.

  • Permasalahan Dalam Pemeliharaan

Lebar lahan di sisi jalan tol yang hanya sekitar 3 sampai 5 meter sangat sempit untuk struktur pendukung dan ruang pemeliharaan panel surya. Selain itu, pemeliharaan dan pengamanan aset dari pencurian panel surya beserta aksesorinya juga sulit dilakukan mengingat panjangnya area infrastruktur PLTS.

Berikut beberapa langkah mitigasi yang dapat ditempuh:

  1. Memasang panel surya anti-glare-coating untuk meminimalkan pantulan cahaya.
  2. Memasang pagar pengaman jalan tol (guardrail) yang kokoh serta pagar pengamanan terhadap pencurian aset di sisi luar DMJ (Daerah Milik Jalan) tol.
  3. Menjadwalkan pembersihan panel secara berkala.
  4. Membangun sistem drainase yang baik.

Meskipun PLTS ini tidak menghasilkan polusi udara, proyek ini tetap wajib AMDAL. Deretan panel surya sepanjang tol berpotensi memicu ‘Dampak Penting’ seperti keselamatan transportasi, perubahan hidrologi dan drainase jalan tol yang dapat menyebabkan aquaplaning.

Di samping itu, Value Engineering (VE) wajib dilakukan agar proyek PLTS jalan tol ini tidak mubazir. Dengan VE, mitigasi resiko yang dilakukan bisa dilakukan lebih optimal dan mencegah pembengkakan biaya yang dapat menggerus efisiensi biaya yang sudah didapatkan dari pembebasan lahan.

Secara keseluruhan, rencana PLN memanfaatkan lahan di sepanjang jalan tol Jasa Marga untuk PLTS merupakan langkah yang patut didukung, mengingat keterbatasan lahan selama ini menjadi hambatan utama pengembangan energi surya di Indonesia. Namun, dukungan ini perlu disertai catatan penting: proyek sebesar ini tidak bisa hanya mengandalkan efisiensi biaya dari lahan yang murah, tanpa memperhitungkan risiko keselamatan, keandalan operasional, dan keberlanjutan jangka panjang. Sinkronisasi dengan masterplan pelebaran tol, penerapan standar keselamatan yang ketat bagi pengguna jalan, serta kajian AMDAL dan Value Engineering yang menyeluruh, harus menjadi syarat mutlak sebelum proyek ini dieksekusi secara masif di 802 km jalur tol. Jika mitigasi risiko dilakukan secara optimal sejak tahap perencanaan, proyek ini berpotensi menjadi model kolaborasi lintas BUMN yang efisien sekaligus aman. Namun jika diabaikan, penghematan biaya di awal bisa berbalik menjadi beban biaya dan risiko keselamatan yang jauh lebih besar di kemudian hari.

Artikel ini merupakan tanggapan analitis atas berita “PLN Bakal Bangun PLTS di Sepanjang 800 KM Jalan Tol Jasa Marga” yang dipublikasikan CNBC Indonesia pada 2 Juli 2026.

Sumber: CNBC Indonesia

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Populer

Setahun Tiga Angka Nikel: RKAB 270 Juta Ton, Target 209 Juta Ton, Realita PHK di Daerah

Dalam tempo kurang dari dua bulan, kebijakan produksi nikel Indonesia untuk 2026 bergeser dari sinyal awal menjadi keputusan resmi....
- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

- Advertisement -spot_img