Toronto — Harga emas dunia diproyeksikan dapat mencapai US$6.000 (setara C$8.450) per ons troi, didorong oleh membengkaknya utang pemerintah Amerika Serikat serta berlanjutnya aksi pembelian oleh bank-bank sentral global yang menopang tren penguatan (bull market) logam mulia ini. Proyeksi tersebut disampaikan John Ing, Presiden brokerase asal Toronto, Maison Placements, dalam laporan riset yang dirilis pada Kamis (23/7).
Menurut Ing, proyeksi tersebut bertumpu pada beban utang federal AS yang telah mencapai US$39 triliun — angka yang sesuai dengan data resmi Departemen Keuangan AS, yang mencatat total utang publik menembus US$39,3–39,8 triliun sepanjang Juli 2026 — dengan sekitar US$1 triliun di antaranya merupakan biaya bunga tahunan, sejalan dengan proyeksi Congressional Budget Office (CBO) senilai US$1,04 triliun untuk tahun fiskal 2026. Ing juga menyebut permintaan yang stabil dari sektor resmi (bank sentral dan lembaga pemerintah) sebagai penopang kedua proyeksinya. “While gold’s two-year rally has taken a pause that refreshes, we believe that this bull market has only just begun,” tulis Ing, yang digambarkan sebagai veteran 50 tahun di industri perbankan investasi dan pemilik Maison Placements Canada. “We continue to expect gold to reach $6,000/oz as part of its multi-year bull market.“
Ing menyoroti dua tekanan yang menurutnya melemahkan posisi dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia. Pertama, ia menyebut pangsa dolar dalam cadangan devisa global telah turun dari 71% pada 1999 menjadi 54% pada kuartal pertama tahun lalu.
[Catatan: Data resmi IMF Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserves (COFER) mencatat pangsa dolar sebesar 57,13% pada kuartal I-2026 — lebih tinggi dari angka 54% yang disebut Ing, meski arah tren (menurun dari sekitar 70-71% pada 2000) tetap konsisten. Kemungkinan Ing menggunakan periode data atau metodologi berbeda; pembaca sebaiknya merujuk data IMF COFER untuk angka paling mutakhir.]
Kedua, Ing menyebut investor asing menguasai hampir US$10 triliun dari total pasar obligasi Treasury AS senilai US$32 triliun — angka yang sejalan dengan data Congressional Research Service yang mencatat kepemilikan asing sekitar US$9,2 triliun dari US$30,1 triliun per Desember 2025, dengan tren terus naik.
Ing berargumen bahwa Bank Sentral AS (The Fed) tidak dapat menopang permintaan Treasury dengan memperluas jumlah uang beredar tanpa memicu inflasi. Ia mencatat jumlah uang beredar luas (M2) AS — yang terkonfirmasi oleh data resmi Federal Reserve mencapai rekor US$23,05 triliun pada Mei 2026 — telah naik hampir empat kali lipat sejak Mei 2000, yang menurutnya mendorong lebih banyak modal mengalir ke aset keuangan maupun aset riil seperti emas.
Dari sisi permintaan fisik, bank-bank sentral dunia tercatat membeli 244 ton emas pada kuartal pertama tahun ini, ditambah 41 ton lagi pada Mei — penambahan bulanan terbesar sejak November. Tiongkok menambah hampir 15 ton cadangannya untuk bulan ke-20 berturut-turut, sehingga total cadangan emas negara itu mencapai 2.346 ton pada akhir Juni — angka yang terkonfirmasi identik dengan data resmi State Administration of Foreign Exchange (SAFE) Tiongkok dan pemberitaan independen (South China Morning Post, Kitco, World Gold Council). Polandia disebut membeli 82 ton sepanjang semester pertama tahun ini. Ing juga mencatat, sejumlah negara mulai memindahkan emas fisik dari brankas penyimpanan di New York dan London untuk mengurangi eksposur terhadap risiko sanksi dan politik — langkah yang menurutnya belum akan menggeser dominasi dolar dalam waktu dekat, namun memperkuat peran emas seiring negara-negara menyebar cadangan mereka ke lebih banyak mata uang dan jenis aset.
Harga emas sendiri telah menguat sekitar 68% sejak 2024, salah satu reli terkuat dalam sejarah modern logam ini, yang menurut Ing telah mengubah kalkulasi ekonomi sejumlah proyek tambang yang sebelumnya dianggap marjinal. Ia memperkirakan kenaikan berkelanjutan menuju US$6.000 per ons akan melebarkan margin perusahaan tambang, memperbesar arus kas bebas, dan memicu gelombang akuisisi karena produsen kesulitan mengganti cadangan bijih yang tergerus.
Disclaimer: Bagian berikut memuat rating dan estimasi produksi saham tambang emas dari laporan riset Maison Placements. Informasi ini disajikan sebagai bagian dari isi laporan yang menjadi sumber berita, bukan rekomendasi investasi dari redaksi. Analis penerbit laporan (John Ing) memiliki kepemilikan saham pada sebagian emiten yang direkomendasikan (lihat disclosure di paragraf terakhir). Pembaca yang mempertimbangkan keputusan investasi disarankan melakukan riset independen dan berkonsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi.
Terkait pilihan saham, Ing memberi rating strong buy untuk Agnico Eagle Mines, B2Gold, dan Endeavour Mining, serta rating buy untuk Barrick Mining dan Lundin Gold — perusahaan yang menurutnya memiliki prospek pertumbuhan produksi jangka pendek. Ia memberi rating hold untuk Kinross Gold, sementara Centerra Gold, Iamgold, dan Newmont mendapat rating sell. Eldorado Gold mendapat rating terendah karena menghadapi risiko konstruksi dan ramp-up di proyek Skouries (Yunani) dan McIlvenna Bay (Saskatchewan). Maison Placements mencantumkan dalam laporannya bahwa Ing atau rekan asosiasinya memiliki kepemilikan saham di Barrick, B2Gold, dan Endeavour.
Fondasi Struktural di Balik Reli Emas Tak Bisa Diabaikan
Ketika seorang analis memasang target harga emas di angka bulat seperti US$6.000 per ons, godaan pertama adalah menganggapnya sebagai gimmick pemasaran riset. Namun argumen John Ing dari Maison Placements layak ditimbang lebih serius, karena sebagian besar pilar argumennya — beban utang AS, rekor jumlah uang beredar, dan pembelian bank sentral yang konsisten — terkonfirmasi oleh data resmi, meski satu angka kunci (pangsa dolar dalam cadangan devisa) ternyata lebih rendah dari data IMF yang sebenarnya. Ini justru memperkuat, bukan melemahkan, pentingnya membaca argumen semacam ini secara kritis: fondasinya nyata, tapi detail angkanya tetap perlu diverifikasi satu per satu.
Yang membuat argumen ini berbeda dari sekadar spekulasi jangka pendek adalah polanya yang tidak reaktif terhadap harga. Tiongkok, misalnya, tetap membeli emas secara agresif justru ketika harga sempat anjlok — perilaku yang lebih mencerminkan strategi rebalancing cadangan jangka panjang ketimbang taruhan spekulatif atas pergerakan harga jangka pendek. Pola serupa terlihat pada Polandia dan sejumlah negara lain yang mulai memindahkan emas fisik keluar dari brankas tradisional di New York dan London. Ini bukan perilaku trader, melainkan perilaku pengelola cadangan negara yang berpikir dalam skala dekade, bukan kuartal.
Dari sisi fiskal AS, logika Ing juga didukung data resmi: utang federal senilai lebih dari US$39 triliun dengan beban bunga tahunan mendekati US$1 triliun menciptakan dilema klasik bagi otoritas moneter — menahan laju pencetakan uang berisiko menekan pasar Treasury yang bergantung besar pada investor asing, sementara melonggarkan kebijakan moneter berisiko memicu inflasi yang justru mendorong investor lari ke aset keras seperti emas. Rekor M2 sebesar US$23 triliun pada Mei 2026 — dikonfirmasi Federal Reserve sendiri — menjadi bukti nyata bahwa likuiditas dolar terus membesar, terlepas dari perdebatan apakah ini murni pertumbuhan alami ekonomi atau pelonggaran kebijakan terselubung.
Implikasinya bagi industri pertambangan pun konkret: reli harga sepanjang 68% sejak 2024 telah mengubah kelayakan ekonomi proyek-proyek yang sebelumnya terlalu mahal untuk dikembangkan, membuka ruang bagi ekspansi produksi dan konsolidasi korporasi karena produsen besar kehabisan cadangan organik untuk digantikan. Fenomena ini patut dicermati bukan hanya oleh investor pasar modal, tetapi juga oleh negara-negara pemegang cadangan emas yang berkepentingan memahami ke mana arah permintaan struktural ini bergerak dalam beberapa tahun mendatang.
sumber: mining.com, IMF, Joint Economic Committee (JEC)

