back to top
Senin, 3 Agustus 2026

SKK Migas: Pengeboran Sumur Laba Laba-1 di Natuna Barat Dimulai, Potensi Tambahan Cadangan Gas 226 BCF

Kegiatan
Tanggal peristiwa: 30 Juli 2026 | Ditulis: 3 Agustus 2026

JAKARTA — Berdasarkan laporan yang dihimpun dari Dunia Energi, dengan verifikasi tambahan dari CNBC Indonesia dan Kepri.co.id, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengumumkan keberhasilan tajak (spud) Sumur Eksplorasi Laba Laba-1 di wilayah Offshore Natuna Barat. Sumur ini menjadi pembuka dari kampanye pengeboran eksplorasi tiga sumur yang diharapkan mampu menambah cadangan gas nasional hingga 226 miliar kaki kubik (BCF).

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, pengeboran Sumur Laba Laba-1 merupakan langkah strategis untuk memperkuat upaya penemuan cadangan migas baru sekaligus mendukung ketahanan energi nasional. “Alhamdulillah, pada 30 Juli 2026 pukul 02.20 WIB telah berhasil dilakukan tajak (spud) Sumur Eksplorasi Laba Laba-1 yang berlokasi di Offshore Natuna Barat menggunakan Rig Admarine 502. Sumur ini dioperasikan oleh operator baru Prime Natuna EP setelah mengakuisisi Premier Oil Natuna Sea pada 28 Mei 2026,” ujar Djoko dalam keterangannya kepada Dunia Energi, Jumat (31/7).

Sumur Laba Laba-1 menargetkan reservoir utama Sandstone Upper Arang (UA Aa-8), play yang sama dengan reservoir di Lapangan Pelikan, Naga, dan Iguana yang secara kumulatif telah memproduksi sekitar 578 BCF gas berdasarkan data ESDC 2025. Reservoir tersebut diperkirakan berada pada kedalaman 4.298 kaki TVDSS, sementara pengeboran direncanakan mencapai Total Depth 5.597 kaki TVDSS. Berdasarkan hasil evaluasi geologi dan geofisika, sumur ini diproyeksikan memiliki potensi sumber daya terambil (recoverable resource) sebesar 45 BCF dry gas.

Laba Laba-1 merupakan sumur pertama dalam rangkaian pengeboran eksplorasi yang akan dilanjutkan dengan pengeboran Bekantan-1 dan Tenggiling South-1. Ketiga sumur tersebut diperkirakan memiliki total potensi sumber daya terambil mencapai 226 BCF gas. “Seluruh rangkaian pengeboran ditargetkan selesai pada November 2026 sebelum memasuki periode monsun,” katanya. Rencana pengeboran tiga sumur ini sebelumnya telah disosialisasikan kepada masyarakat Kabupaten Kepulauan Anambas dalam pertemuan yang digelar Prime Natuna EP bersama pemerintah daerah setempat awal Juli 2026, menurut laporan Kepri.co.id.

Menurut Djoko, Sumur Laba Laba-1 dan Bekantan-1 merupakan bagian dari program near field exploration yang dirancang agar dapat segera dikembangkan. Targetnya, kedua prospek tersebut dapat memasuki tahap Plan of Development (POD) pada 2027 dan mulai berproduksi pada 2028 atau bahkan lebih cepat. Produksi awal diperkirakan mencapai 23 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD) dengan memanfaatkan fasilitas produksi terdekat di Naga Field yang berjarak sekitar 15 kilometer, sehingga pengembangan dapat dilakukan lebih efisien melalui optimalisasi infrastruktur yang telah tersedia.

Djoko berharap seluruh kegiatan pengeboran dapat berlangsung dengan aman dan memberikan hasil sesuai harapan. “Kami mohon doa dan dukungan agar kegiatan pengeboran berjalan aman, lancar, tanpa kecelakaan, serta memberikan hasil terbaik untuk mendukung penemuan cadangan migas baru dan peningkatan ketahanan energi nasional,” tutupnya.

Dinamika Investasi dan Alih Kelola Blok

Di balik angka potensi cadangan 226 BCF, ada narasi transisi kepemilikan yang layak dicermati. Prime Natuna EP baru resmi menjadi operator Natuna Sea Block A sejak akhir Mei 2026, namun dalam hitungan bulan langsung menjalankan kampanye pengeboran tiga sumur sekaligus — sebuah kecepatan eksekusi yang tidak umum bagi operator yang baru mengambil alih blok.

Dari satu sisi, ini bisa dibaca sebagai sinyal positif. Kepri.co.id mencatat, pihak manajemen Prime Natuna EP secara eksplisit menegaskan kepada masyarakat Anambas bahwa pergantian operator tidak mengubah standar keselamatan kerja maupun komitmen operasional perusahaan. Langsung tancap gas dengan kampanye tiga sumur menunjukkan kepercayaan diri terhadap data dan potensi geologis blok yang diwarisi, sekaligus mengindikasikan keseriusan investasi sejak awal masa kelola — preseden yang bisa menguntungkan iklim investasi hulu migas nasional, yang belakangan diwarnai sejumlah pergantian kepemilikan blok mature dari pemain lama ke entitas baru.

Namun ada sisi yang perlu dipertimbangkan secara berimbang. Pergantian operator dalam waktu singkat, terutama untuk blok yang sudah “mature” dan memiliki data historis kompleks, membawa risiko tersendiri: kesinambungan interpretasi data teknis dari operator lama ke operator baru tidak selalu mulus. Target yang dipatok pun tergolong agresif — POD pada 2027 dan onstream produksi pada 2028 “atau bahkan lebih cepat”, hanya berselang satu-dua tahun sejak operator baru memegang kendali penuh. Jika evaluasi pascapengeboran tidak semulus proyeksi, atau muncul kendala teknis maupun perizinan yang lazim dihadapi operator yang baru membangun rekam jejak operasional, timeline agresif ini berpotensi molor.

Yang dipertaruhkan pada akhirnya bukan hanya keberhasilan teknis tiga sumur ini, melainkan juga preseden: apakah pola “operator baru langsung genjot eksplorasi” ini bisa direplikasi secara sehat di blok-blok migas mature lain di Indonesia, atau justru menjadi kasus yang perlu dievaluasi ulang bila realisasi di lapangan tidak sejalan dengan proyeksi yang disampaikan di atas kertas.

sumber: Dunia EnergiCNBC IndonesiaKepri.co.id

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Populer

Setahun Tiga Angka Nikel: RKAB 270 Juta Ton, Target 209 Juta Ton, Realita PHK di Daerah

Dalam tempo kurang dari dua bulan, kebijakan produksi nikel Indonesia untuk 2026 bergeser dari sinyal awal menjadi keputusan resmi....
- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

- Advertisement -spot_img