back to top
Senin, 3 Agustus 2026

Groundbreaking Proyek LNG Abadi Masela, Bahlil Pastikan Alokasi Domestik Diutamakan

Kegiatan

Tanggal peristiwa: 16 Juli 2026 | Tanggal ditulis: 21 Juli 2026

TANIMBAR, KEPULAUAN TANIMBAR — Pemerintah resmi memulai konstruksi Proyek LNG Abadi Blok Masela melalui seremoni peletakan batu pertama (groundbreaking) di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan minimal 60 persen produksi gas proyek ini akan dialokasikan untuk kebutuhan domestik, sementara ekspor dibatasi maksimal 40 persen. Peresmian dilakukan secara virtual oleh Presiden Prabowo Subianto dari Istana Merdeka, Jakarta, didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Menteri Luar Negeri Sugiono.

Namun di balik seremoni tersebut, proyek ini menyimpan catatan panjang: Kontrak Kerja Sama proyek ini telah direncanakan sejak 1998 dan baru bisa dieksekusi pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto setelah tertunda 28 tahun dan melewati enam pergantian presiden. Penandatanganan Production Sharing Contract berlangsung pada 16 November 1998 di era Presiden B.J. Habibie.

Perdebatan skema yang menyita satu dekade

Pemerintah baru mengonfirmasi Blok Masela menyimpan salah satu cadangan gas raksasa di Indonesia pada 2008, dan pada 2010 menyetujui rencana pengembangan pertama dengan skema kilang terapung di laut atau Floating LNG berkapasitas 2,5 juta ton per tahun. Setelah pengeboran lanjutan pada 2014 menemukan cadangan tambahan yang jauh lebih besar, rencana kapasitas dihitung ulang naik menjadi 7,5 juta ton dengan skema laut, yang justru memicu perdebatan sengit di tingkat kabinet.

Presiden Joko Widodo akhirnya memutuskan pada Maret 2016 agar kilang dibangun di darat (onshore), bukan di laut, dengan pertimbangan dampak ekonomi bagi daerah — keputusan yang memaksa operator merevisi total rencana pengembangan. Perubahan skema inilah yang menurut Bahlil menjadi biang utama molornya proyek selama bertahun-tahun.

Keluarnya Shell dan babak baru kepemilikan

Selain soal skema teknis, pergantian pemegang saham turut memperlambat proyek. Pandemi Covid-19 serta perubahan arah investasi energi global membuat Shell memutuskan keluar dari proyek pada pertengahan 2020. Proses divestasi baru rampung pada 25 Juli 2023, ketika 35 persen participating interest Shell dialihkan ke konsorsium Pertamina Hulu Energi Masela (20 persen) dan Petronas Masela (15 persen), mendampingi INPEX Masela Ltd yang tetap menjadi operator dengan 65 persen hak partisipasi. Menyusul perubahan kepemilikan tersebut, revisi kedua rencana pengembangan lapangan disetujui pemerintah pada 28 November 2023.

Tantangan teknis laut dalam

Bahlil turut menyoroti tantangan teknis yang masih menghadang. Salah satu tantangan terbesar adalah pembangunan pipa bawah laut sepanjang sekitar 180 kilometer yang menghubungkan Lapangan Abadi di Laut Arafura dengan fasilitas kilang di darat, sebuah pekerjaan yang menurutnya “bukan sesuatu yang gampang”. Lapangan ini berada di kedalaman laut 400-800 meter — kondisi yang membutuhkan teknologi bawah laut kelas atas untuk sistem pengeboran dan produksi.

Dari sisi investasi, proyek ini diperkirakan membutuhkan dana sekitar US$20,9 miliar atau setara Rp355 triliun, menjadikannya salah satu proyek migas terbesar yang sedang dikembangkan di Indonesia.

Implikasi bagi target produksi gas nasional

Dengan target produksi komersial pada 2029, molornya Blok Masela selama hampir tiga dekade berarti kontribusinya terhadap target lifting gas nasional juga tertunda dalam jangka yang sama — pada saat kebutuhan gas domestik untuk sektor kelistrikan dan pupuk terus meningkat setiap tahun, sebagaimana pernah disinggung dalam pemberitaan sebelumnya soal defisit pasokan gas PLN. Kini dengan skema alokasi 60:40 yang diumumkan Bahlil, pertanyaan berikutnya adalah apakah jadwal konstruksi baru ini bisa dipenuhi tanpa hambatan serupa yang selama ini berulang di proyek ini.

Sumber:

  1. Bloomberg Technoz, “Sejarah Blok Masela: Skema Ruwet, Investor Cabut, Mandek 28 Tahun”, ~16 Juli 2026
  2. Bisnis.com, “Babak Baru Proyek Abadi Masela Usai Terkatung-katung 28 Tahun”, 17 Juli 2026
  3. Antara News, “Masela, Ketahanan Energi yang Tertunda 28 Tahun”, ~17 Juli 2026
  4. Kementerian ESDM RI (siaran pers resmi), “Gas Masela Mengalir, Pemerintah Tetapkan Minimal 60 Persen Gas untuk Domestik”, 17 Juli 2026
- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Populer

Setahun Tiga Angka Nikel: RKAB 270 Juta Ton, Target 209 Juta Ton, Realita PHK di Daerah

Dalam tempo kurang dari dua bulan, kebijakan produksi nikel Indonesia untuk 2026 bergeser dari sinyal awal menjadi keputusan resmi....
- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

- Advertisement -spot_img