MALANG — Tiga mahasiswa program studi Mikrobiologi angkatan 2022 Institut Teknologi Bandung (ITB) menyabet juara 1 nasional kategori Industry Case Analysis Competition (I-CAC) pada ajang I-CHALLENGE 2026 yang digelar di Universitas Brawijaya, Malang. Tergabung dalam tim bernama “SULE”, mereka adalah Malika Fatima Lawe selaku ketua, Rufaida Khairina, dan I Dewa Ayu Andina Angelia. Di luar capaian tim, Malika juga membawa pulang penghargaan Best Presenter dari kompetisi tersebut.
Inti inovasi yang ditawarkan berjudul “FABA-Derived Silica and Alumina for Lithium-Ion Battery Anode and Separator Coating as a Renewable Energy Storage Solution in Indonesia”. Gagasan ini memanfaatkan limbah padat batubara berupa Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) dari PT PLN NP UP Paiton sebagai bahan baku untuk memproduksi anoda silikon-karbon berkapasitas tinggi serta lapisan keramik alpha-alumina untuk baterai lithium-ion. Melalui metode manufaktur sirkular terintegrasi — yang menurut tim mencakup direct alkaline leaching, sintesis anoda nano-silikon, dan ammonium sulfate roasting — tim mengklaim anoda FABA mampu mencapai kapasitas hingga 1450,3 mAh/g, sementara separator alpha-alumina stabil hingga 200°C.
“Kami memilih topik ini karena berhasil menghubungkan krisis limbah industri hulu dan urgensi kemandirian teknologi renewable energy di hilir. FABA memiliki kandungan silika 20–24% dan alumina 19–28%, sehingga berpotensi menggantikan bahan impor,” ujar Malika Fatima Lawe.
Kompetisi tahun ini mengusung tema “Optimization of Green Process through Circular Resources towards Regenerative Future” dan menantang peserta merumuskan solusi atas persoalan riil industri kimia. Dari sekitar 300 tim yang mendaftar, hanya 10 tim lolos ke babak final yang berlangsung tiga hari. Rangkaian final dibuka dengan Pitching Day untuk memaparkan solusi dan tanya jawab di hadapan juri dari kalangan akademisi dan praktisi industri, dilanjutkan sesi Exhibition berupa pemaparan poster dan infografis pada hari kedua. Tim menyebut sesi tanya jawab sebagai momen paling berkesan karena menuntut mereka mempertahankan argumentasi berbasis data.
Tim juga memaparkan klaim dampak yang luas. Menurut mereka, solusi sirkular FABA berpotensi menuntaskan 1 juta ton limbah PLN NP, mengurangi ketergantungan impor bahan baku baterai hingga 100%, dan menurunkan emisi karbon tahunan hingga 52,46%, sekaligus mendukung transisi energi nasional menuju Net Zero Emission 2060. Mereka berharap inovasi tersebut tidak berhenti di laporan kompetisi.
“Harapan kami, inovasi ini tidak hanya berhenti sebagai laporan kompetisi, tetapi implementasi roadmap mulai dari riset MVP 2026 hingga komersialisasi pabrik 2027 dapat direalisasikan oleh PLN Nusantara Power dan Indonesia Battery Corporation (IBC) sebagai solusi substitusi material impor yang bernilai tinggi,” kata Rufaida.
Konteks: Dari Limbah Konstruksi Menuju Material Bernilai Tinggi
Inovasi tim SULE menumpang pada perubahan status regulasi FABA yang cukup signifikan. Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021, FABA dari PLTU yang menggunakan teknologi pembakaran tertentu (seperti pulverized coal) dikeluarkan dari kategori limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan diklasifikasikan sebagai limbah non-B3, meski pengelolaannya tetap wajib memenuhi standar dan persyaratan teknis yang tercantum dalam persetujuan dokumen lingkungan. Sejak saat itu, pemanfaatan FABA umumnya diarahkan ke substitusi semen (pozzolan), bahan baku batako, road base, stabilisasi lahan, hingga reklamasi tambang. Mengalihkan FABA menjadi material baterai akan menempatkannya pada jalur valorisasi yang jauh lebih tinggi nilainya dibanding pemanfaatan konstruksi yang selama ini lazim.
Secara teknis, gagasan ini juga bersinggungan dengan agenda ekosistem baterai nasional, di mana Indonesia Battery Corporation (IBC) — yang disebut tim sebagai salah satu pihak yang diharapkan merealisasikan roadmap — merupakan konsorsium BUMN yang dibentuk untuk membangun rantai pasok baterai dari hulu ke hilir. [KONTEKS TAMBAHAN] Adapun klaim kinerja anoda 1450,3 mAh/g yang disebut tim berada pada rentang yang masuk akal secara ilmiah: grafit konvensional memiliki kapasitas teoretis sekitar 372 mAh/g, sementara silikon mencapai kisaran teoretis ~3.579–4.200 mAh/g, sehingga angka tim berada di antara keduanya sebagaimana lazim pada komposit silikon-karbon.
Apresiasi atas Riset yang Menjawab Dua Persoalan Sekaligus
Capaian tim SULE layak diapresiasi karena, secara konseptual, ia menjahit dua persoalan yang selama ini berdiri terpisah: timbunan limbah PLTU di hulu dan ketergantungan impor material baterai di hilir. Pendekatan ekonomi sirkular semacam ini sejalan dengan arah kebijakan transisi energi nasional dan menunjukkan kematangan berpikir yang melampaui sekadar eksperimen laboratorium — para mahasiswa ini berusaha menempatkan temuan ilmiah dalam kerangka kelayakan industri, lengkap dengan peta jalan komersialisasi.
Namun apresiasi yang jujur juga menuntut kehati-hatian agar antusiasme tidak berubah menjadi pembesaran capaian. Karya ini lahir dari kompetisi analisis kasus industri, bukan dari lini produksi yang sudah tervalidasi. Sejumlah klaim — terutama substitusi impor “hingga 100%” dan penurunan emisi “52,46%” — sebaiknya diberitakan sebagai proyeksi tim, bukan fakta final. Menempatkan riset mahasiswa pada porsi yang tepat justru menghormati kerja keras mereka: memberi ruang bagi gagasan yang menjanjikan untuk diuji lebih lanjut, tanpa menjanjikan lebih dari yang sudah dibuktikan.

