back to top
Sabtu, 6 Juni 2026

Harita Nickel Andalkan Waste Heat Recovery dan PLTS untuk Tekan Emisi Menuju Net Zero 2060

Kegiatan

Produsen nikel terintegrasi Harita Nickel memaparkan peta jalan dekarbonisasinya sebagai upaya menjaga daya saing di tengah tekanan pasar global dan standar keberlanjutan internasional yang semakin ketat. Perusahaan memposisikan nikel sebagai komoditas berperan ganda: bahan baku utama baterai kendaraan listrik yang menopang transisi energi, sekaligus komoditas yang proses produksinya dituntut makin efisien dan rendah emisi. Pendekatan yang dipilih bersifat bertahap (continuous improvement), menggabungkan efisiensi energi, inovasi teknologi, dan pemanfaatan energi rendah karbon.

Tulang punggung pengurangan emisi perusahaan datang dari sisi efisiensi. Teknologi waste heat recovery di PT Halmahera Persada Lygend (HPL) — yang mengubah uap panas sisa pengolahan nikel menjadi energi — disebut menyumbang sekitar 73% dari total emisi yang dihindari perusahaan pada 2023. Inisiatif pendukung lain mencakup gasifikasi batubara menjadi syngas yang terintegrasi dalam Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), penggunaan biosolar berkandungan 35% bahan hayati (naik dari 30%), daur ulang minyak jelantah dapur karyawan sebagai bahan bakar alternatif di smelter, serta pengoperasian kendaraan listrik seperti forklift di gudang nikel sulfat HPL. Di sisi energi surya, perusahaan mengembangkan PLTS untuk penerangan jalan, menara telekomunikasi, dan atap perumahan karyawan, dengan tambahan instalasi PLTS atap ditargetkan beroperasi sebelum akhir 2025.

Secara terukur, total energi dari inisiatif efisiensi dan energi terbarukan disebut mencapai 20.992.004 GJ — dengan komposisi 67% dari efisiensi energi dan 33% dari energi terbarukan — sementara total emisi yang dihindari dan dikurangi tercatat 1.610.582 ton CO2e, terutama dari lini RKEF dan HPAL. Direktur HSE Harita Nickel Tonny Gultom menyatakan investasi PLTS berkisar US$ 1–1,5 juta per 1 MWp dan menegaskan bahwa pertambangan bertanggung jawab harus membawa manfaat ekonomi, sosial, sekaligus ekologis. Capaian ini diposisikan perusahaan sebagai fondasi menuju target net zero emission 2060.

Strategi Harita Nickel mencerminkan dilema khas industri smelter nikel Indonesia: meski produk akhirnya menjadi enabler transisi energi global, operasinya sendiri masih sangat bergantung pada batubara melalui captive power plant. Sebagian besar inisiatif yang dipaparkan — gasifikasi batubara, biosolar, waste heat recovery — adalah optimasi efisiensi pada sistem yang basis energinya tetap fosil, bukan substitusi sumber energi bersih. Ini relevan dengan sorotan kerangka JETP (Just Energy Transition Partnership) beserta dokumen CIPP-nya, yang secara spesifik menyoroti pesatnya pertumbuhan PLTU captive di kawasan industri hilirisasi nikel sebagai salah satu tantangan terbesar bagi dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan nasional.

Perlu diperhatikan bahwa istilah “emisi yang dihindari” (avoided emissions) berbeda secara metodologis dari penurunan emisi absolut. Angka 1.610.582 ton CO2e merupakan klaim emisi yang dihindari/dikurangi, bukan tentu pengurangan jejak karbon total perusahaan dari tahun ke tahun — di tengah ekspansi produksi, emisi absolut bisa saja tetap naik. Pembedaan ini penting agar tidak terbaca sebagai klaim bahwa Harita telah menurunkan emisi keseluruhannya.

Hijau yang Mana? Membaca Ulang Klaim Dekarbonisasi Harita Nickel

Ketika sebuah perusahaan tambang mengumumkan telah menghindari 1,6 juta ton CO2e dan menargetkan net zero pada 2060, naluri pertama kita adalah memberi tepuk tangan. Tapi tugas pembaca yang kritis bukan menolak kabar baik, melainkan menanyakan: hijau yang mana yang sedang kita bicarakan? Sebab di balik istilah “dekarbonisasi”, ada dua hal yang sering dilebur menjadi satu padahal berbeda secara fundamental — efisiensi energi dan transisi ke energi bersih. Membedakan keduanya adalah kunci untuk menilai apakah peta jalan Harita Nickel benar-benar menuju nol emisi, atau sekadar menuju operasi fosil yang lebih irit.

Lihat komposisi capaian yang dipaparkan perusahaan sendiri. Dari total energi yang dihasilkan inisiatif keberlanjutannya, 67% berasal dari efisiensi energi dan hanya 33% dari energi terbarukan. Lebih telak lagi, kontributor terbesar terhadap emisi yang dihindari — sekitar 73% — adalah teknologi waste heat recovery, yaitu pemulihan panas buangan dari proses pengolahan nikel. Ini teknologi yang baik dan layak diapresiasi, tetapi hakikatnya adalah mendaur ulang energi dari proses yang sumbernya tetap fosil. Begitu pula gasifikasi batubara menjadi syngas dan peralihan ke biosolar 35%: keduanya menurunkan intensitas emisi per unit produksi, tetapi tidak mencabut akar masalahnya, yaitu ketergantungan pada pembakaran bahan bakar berbasis karbon.

Pola yang sama terbaca pada PLTS yang dibanggakan. Pembangkit surya itu, menurut paparan perusahaan, dimanfaatkan untuk penerangan jalan, menara telekomunikasi, dan atap perumahan karyawan — semuanya kebutuhan periferal. Tidak ada klaim bahwa energi surya menyentuh jantung konsumsi energi perusahaan: smelter RKEF dan lini HPAL yang menjadi tulang punggung operasional sekaligus pelahap energi terbesar. Dengan kata lain, energi bersih hadir di pinggir, sementara pusat produksi tetap ditenagai sumber konvensional. Investasi US$ 1–1,5 juta per MWp yang disebut Tonny Gultom memang nyata dan tidak murah, tetapi skalanya belum berbicara tentang transformasi sumber energi inti.

Di sinilah letak persoalan komunikasi keberlanjutan yang lebih luas. Ketika capaian efisiensi dibingkai dengan kosakata “menuju net zero”, publik berisiko membaca lebih dari yang sebenarnya terjadi. Apalagi materi semacam ini kerap beredar sebagai rilis perusahaan yang disebar serentak ke banyak media — sebuah format yang menempatkan beban verifikasi sepenuhnya di pundak pembaca dan redaksi. Bahaya laten dari pembingkaian semacam ini bukan kebohongan, melainkan pergeseran makna: efisiensi yang sah disulap menjadi narasi transisi energi yang belum tentu terjadi. Itulah wilayah abu-abu tempat istilah “greenwashing” lahir, sering kali tanpa niat menipu, hanya karena batas antara “lebih efisien” dan “lebih bersih” dibiarkan kabur.

Namun keadilan menuntut kita melihat sisi sebaliknya, dan sisi ini kuat. Smelter nikel adalah industri proses bersuhu sangat tinggi dengan kebutuhan beban dasar (baseload) yang stabil dan masif. Energi surya yang bersifat intermiten — hanya tersedia saat matahari bersinar — secara teknis sulit menggantikan pasokan baseload semacam itu dalam waktu dekat tanpa terobosan penyimpanan energi skala besar yang ekonomis. Dalam kerangka realitas ini, efisiensi energi bukanlah pengalih perhatian, melainkan titik masuk yang paling rasional, terukur, dan dapat dieksekusi hari ini. Menuntut sebuah smelter beralih total ke energi terbarukan seketika sama dengan menuntut sesuatu yang belum tersedia secara teknologis maupun ekonomis. Dari sudut ini, Harita justru mengerjakan pekerjaan rumah yang benar pada urutan yang benar: efisiensi dulu, sambil membangun kapasitas terbarukan secara bertahap.

Maka pertanyaan yang adil untuk diajukan bukanlah “mengapa belum 100% energi terbarukan”, melainkan “apa rencana peralihan sumber energinya, dan kapan”. Net zero 2060 adalah tujuan yang terhormat, tetapi tujuan tanpa lintasan hanyalah aspirasi. Yang membedakan strategi dekarbonisasi sungguhan dari sekadar program efisiensi adalah adanya target peralihan sumber energi yang konkret dan bertanggal — berapa megawatt terbarukan yang akan menopang proses inti, pada tahun berapa, menggantikan berapa persen pembangkit fosil. Selama angka-angka itu belum hadir di ruang publik, capaian efisiensi Harita hari ini sebaiknya dibaca apa adanya: langkah awal yang baik dan masuk akal, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa perusahaan sedang benar-benar berada di jalur menuju nol emisi. Memberi apresiasi atas langkah awal dan menuntut kejelasan lintasan bukanlah dua sikap yang bertentangan — keduanya justru syarat agar transisi energi di sektor mineral berlangsung jujur.

Sumber: detikFinance, “Ini Strategi Hijau Harita Nickel Tekan Emisi dan Jaga Daya Saing Energi”, Rahmat Khairurizqi, 5 Maret 2026.

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Populer

Baja “Ingat Bentuk” untuk Beton: Kapan Tahan, Kapan Rentan

Pusat Riset Metalurgi BRIN merampungkan pengujian ketahanan korosi shape memory alloy steel — baja yang bisa "mengingat" dan kembali...
- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

- Advertisement -spot_img