Pernyataan Ketua Umum PERHAPI Sudirman Widhy Hartono pada April 2026 menggarisbawahi akar persoalan klasik hilirisasi batu bara Indonesia: biaya investasi teknologi yang tinggi, ketergantungan pada teknologi asing, dan harga jual produk olahan yang belum cukup memberikan tingkat return positif. Contoh paling telak adalah proyek gasifikasi batu bara menjadi DME (dimethyl ether) di Tanjung Enim — kerja sama PTBA, Pertamina, dan Air Products & Chemicals Inc. (APCI) yang seharusnya menyerap 6 juta ton batu bara/tahun untuk menghasilkan 1,4 juta ton DME (substitusi 1 juta ton impor LPG). APCI justru mundur sejak Maret 2023 dengan komitmen investasi US$2,1 miliar yang batal, alasan resmi yang disampaikan saat itu adalah paket insentif EBT yang dianggap kurang menarik. Hingga konferensi pers PTBA pada April 2025, perseroan belum menemukan mitra pengganti yang serius dengan teknologi setara, dan pada Februari 2026 proyek DME bahkan gagal ikut groundbreaking fase 1 hilirisasi Danantara karena disebut COO Danantara Dony Oskaria masih butuh kajian kesiapan teknologi lebih lanjut. Tiga tahun sejak APCI hengkang, secara substantif posisi proyek belum banyak bergerak.
Kontras dengan Indonesia, China justru sedang memanen momentum geopolitik untuk ekspansi besar-besaran coal-to-chemicals — momentum yang sebagian dipicu blokade Selat Hormuz akhir Februari 2026 dan perang Iran. China Shenhua Energy mengalihkan capex ke produksi olefin berbasis batu bara, Sinopec menghidupkan kembali proyek coal-to-olefins senilai >US$3 miliar yang lama mangkrak, dan Ningxia Baofeng — produsen coal-to-olefins terbesar dunia — mencatat lonjakan laba bersih 79% pada 2025 setelah memperluas kapasitas menjadi 5 juta ton/tahun. Logika ekonominya kuat: laporan SDIC Securities & China International Capital Corp. menunjukkan breakeven coal-to-olefins di kisaran US$45-50/barel ekuivalen minyak, sementara harga minyak global sudah tembus US$100/barel pasca-blokade Hormuz — memberi keunggulan biaya >30% versus jalur petrokimia. Ditambah lagi, China sudah membangun ekosistemnya selama hampir dua dekade: penguasaan teknologi DMTO generasi ketiga sepenuhnya independen, integrasi dengan green hydrogen, hingga konsumsi sekitar 380 juta ton batu bara/tahun untuk industri kimia (data IEA via OilPrice). Indonesia praktis tertinggal bukan hanya di sisi teknologi, tetapi di sisi ekosistem industri kimia hilir secara utuh.
Yang perlu dicermati secara skeptis dari narasi PERHAPI dan Bloomberg Technoz: menyalahkan keekonomian sebagai “satu-satunya” hambatan terlalu menyederhanakan masalah. Pertama, harga produk seperti DME memang struktural sulit bersaing dengan LPG bersubsidi — kecuali pemerintah menyiapkan formula harga atau subsidi off-taker yang transparan, mitra mana pun (bukan hanya APCI) akan menemui kesimpulan keekonomian yang sama. Kedua, harapan bahwa “Danantara akan menyelamatkan” dengan masuk sebagai investor perlu diuji — masuknya dana negara tidak otomatis memperbaiki nilai keekonomian proyek; tanpa pasar offtake yang dijamin dan teknologi yang reliable, proyek ini berisiko menjadi beban fiskal jangka panjang ketimbang sumber nilai tambah. Ketiga, perbandingan dengan China perlu proporsional: skala konsumsi domestik China untuk plastik & kimia jauh lebih besar dari Indonesia, sehingga break-even kapasitas mereka secara natural lebih mudah tercapai. Keempat, kewajiban hilirisasi bagi 7 perusahaan IUPK (Arutmin, KPC, AADI, Kideco, MHU, Tanito Harum, Berau Coal) sebagaimana diamanatkan UU Minerba dan PP 96/2021 perlu diawasi pelaksanaannya — beberapa proyek seperti semikokas (MHU, Tanito) dan metanol (Berau) tidak mendapat sorotan publik sebesar DME, padahal teknologi semikokas relatif lebih matang dan mungkin keekonomiannya lebih realistis. Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan sekadar “mengapa hilirisasi batu bara stagnan”, melainkan: apakah Indonesia memilih jalur produk yang tepat sesuai keunggulan komparatifnya, atau justru terlalu lama terobsesi pada DME yang secara struktural sulit menyaingi LPG selama kebijakan harga gas dan subsidi belum direstrukturisasi?
Source: Perhapi ; Bloomberg Technoz

