back to top
Rabu, 10 Juni 2026

Darurat Energi, Italia Bersiap Kembali ke Batu Bara

Kegiatan

Langkah Italia membuka opsi reaktivasi empat PLTU cadangan dan menunda penutupan permanen hingga 2038 menambah daftar negara Eropa yang mulai pragmatis di tengah dinamika geopolitik — terutama eskalasi konflik Timur Tengah dan dampak perang Iran yang memicu volatilitas harga gas. Sebelum Italia, Jerman lebih dulu melakukan langkah serupa: pada akhir Maret 2026, parlemen Jerman menyetujui peninjauan ulang reaktivasi PLTU cadangan (sekitar 6,7 GW kapasitas hard coal yang berada di grid reserve), bahkan Kanselir Friedrich Merz mengisyaratkan kemungkinan menunda phase-out coal melampaui jadwal jika krisis berlanjut. Pola ini — Jerman membuka jalan, lalu Italia menyusul — secara fundamental memberi sinyal bahwa demand structural batubara Eropa kemungkinan akan tetap tertahan tinggi di Semester II/2026, paling tidak sebagai insurance capacity. Namun penting digarisbawahi: status Italia saat ini masih kontinjensi, bukan reaktivasi aktual — trigger-nya adalah harga gas tembus 70 EUR/MWh, sementara harga saat ini masih sekitar 40 EUR/MWh. Jadi tambahan demand riil dari Italia belum tentu materializing, kecuali eskalasi geopolitik berlanjut.

Konteks ini menjadi argumen kuat bagi pelaku usaha tambang Indonesia untuk mendorong relaksasi kuota produksi RKAB di Semester II/2026. Akhir 2025 lalu, ESDM memang memangkas target produksi nasional dari realisasi 2025 sebesar 790 juta ton menjadi sekitar 600 juta ton di 2026 — pemangkasan sekitar 24% di level nasional, dengan dalih menjaga keseimbangan supply-demand global dan mengangkat HBA. Namun di level perusahaan, APBI-ICMA melaporkan pemangkasan yang jauh lebih dalam, bervariasi 40-70% (bahkan hasil evaluasi tahap 2 disebut PERHAPI mencapai 80%) dibanding usulan RKAB tahunan yang sudah masuk evaluasi ketiga. Konsekuensinya sudah terasa di lapangan: kontraktor jasa pertambangan mulai merumahkan sebagian karyawan, utilisasi alat berat menurun signifikan (ditangkap juga oleh industri asuransi yang memperkirakan premi marine cargo, alat berat, dan engineering ikut tertekan), serta risiko force majeure terhadap kontrak ekspor maupun DMO. Yang menarik, kebijakan ini mulai membuahkan hasil di sisi harga — HBA kalori tinggi (6.322 kcal/kg GAR) bergerak naik dari US$99,87/ton di awal April menjadi US$103,43/ton di pertengahan April, lalu menyentuh US$106,57/ton di awal Mei 2026 (naik 6,7% dalam sebulan).

Dengan harga sudah merangkak naik dan sinyal demand Eropa yang menguat, ruang untuk negosiasi penambahan kuota di Semester II menjadi lebih terbuka secara argumentatif. ESDM sendiri, lewat Wamen Yuliot Tanjung (Februari 2026), sudah membuka pintu bahwa kuota RKAB bersifat dinamis dan dapat direvisi sepanjang ada peningkatan permintaan — meski saat itu konteksnya domestik. Logikanya bisa diperluas: jika harga sudah pulih ke level yang dianggap “sehat” oleh pemerintah (proyeksi Menkeu 2026 di kisaran US$95-100/ton sudah terlampaui), maka rasionalitas menahan produksi mulai berkurang, sementara biaya sosial-ekonominya (PHK, idle alat berat, gagal kontrak, tekanan ke perbankan dan asuransi) terus berakumulasi. Catatan skeptis yang perlu dipertimbangkan: (1) lonjakan HBA terbaru bisa juga dipengaruhi faktor non-Indonesia seperti gangguan pasokan dari Australia atau permintaan musiman China — bukan murni efek pemangkasan kuota RI; (2) produksi Indonesia (~600-790 juta ton) tetap kecil dibanding China (~8 miliar ton), sehingga kemampuan RI mengangkat harga global terbatas, sebagaimana diingatkan pengamat PERHAPI Irwandy Arif; dan (3) Eropa hanya menyerap sebagian kecil dari ekspor batubara Indonesia — pembeli utama tetap China, India, dan ASEAN, jadi narasi “demand Eropa menyelamatkan kuota” perlu diuji proporsinya secara hati-hati sebelum dijadikan basis advokasi kebijakan.

Referensi: republika

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Populer

Baja “Ingat Bentuk” untuk Beton: Kapan Tahan, Kapan Rentan

Pusat Riset Metalurgi BRIN merampungkan pengujian ketahanan korosi shape memory alloy steel — baja yang bisa "mengingat" dan kembali...
- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

- Advertisement -spot_img