Jakarta — Harga LPG non-subsidi ukuran 5,5 kg dan 12 kg di tingkat pangkalan belum juga turun sejak penyesuaian terakhir pada 18 April 2026. Di tengah situasi itu, pemerintah lewat Kementerian ESDM kembali menggaungkan rencana mengganti LPG 3 kg bersubsidi dengan tabung Compressed Natural Gas (CNG) 3 kg bermerek “CNG Merah Putih” — program yang, berdasarkan keterangan resmi Menteri ESDM sendiri, masih berstatus uji coba dan belum masuk tahap implementasi.
Harga LPG non-subsidi masih tinggi
Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di sebuah pangkalan wilayah Tangerang Selatan per 1 Juli 2026, LPG non-subsidi 12 kg dijual Rp 245.000 per tabung, naik Rp 35.000 dari harga sebelum penyesuaian; LPG 5,5 kg dijual Rp 130.000 per tabung, naik Rp 20.000. “(Harga LPG) 12 kg Rp 245.000, (5,5 kg) Rp 130.000,” ungkap penjaga pangkalan tersebut, seperti dikutip CNBC Indonesia. LPG bersubsidi 3 kg di wilayah yang sama disebut tetap dijual Rp 22.000 per tabung, di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) resmi setempat sebesar Rp 19.000.
Mengutip data Pertamina Patra Niaga yang dilaporkan CNBC Indonesia, harga LPG non-subsidi di tingkat agen resmi yang berlaku sejak 18 April 2026 di antaranya: Jabodetabek–Jabar–Jateng–DIY–Jatim–Bali–NTB, LPG 5,5 kg Rp 107.000 dan 12 kg Rp 228.000; wilayah Sumatera dan sebagian Sulawesi, LPG 5,5 kg Rp 111.000 dan 12 kg Rp 230.000.
CNG Merah Putih: klaim optimistis vs kehati-hatian resmi
Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman optimistis program ini bisa segera bergulir. “Oh, Pak Menteri kan mengumumkan kemarin tabung Merah Putih. Jadi bulan Juli ini sedang dibuat prototype untuk diuji. Jadi diuji itu. Belasan lah mungkin sekitar 15 (tabung). Satu tahap lagi sudah bisa di-implement, di-edarkan tahun ini,” kata Laode, seperti dikutip CNBC Indonesia.
Namun klaim “tinggal satu tahap lagi” itu berbeda tekanan dengan pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sendiri. Dalam keterangan yang dilaporkan Bisnis.com pada Senin (6/7/2026) di Istana Negara, Bahlil menegaskan program ini masih di uji coba tahap ketiga dan belum masuk fase implementasi: “Itu masih dalam uji coba. Saya katakan beberapa kali, bahwa menyangkut dengan CNG itu dilakukan uji coba tahap ketiga. Kalau uji coba tahap ketiganya insyaallah berhasil, baru bisa kita implementasikan.” Ia menyoroti tekanan tabung 3 kg yang mencapai 200–250 bar sebagai alasan kehati-hatian.
Antara News melaporkan keterangan Bahlil yang lebih spesifik soal waktu, disampaikan di Tuban beberapa hari sebelumnya: “Sekarang lagi diuji coba tahap ketiga. Insyaallah, doain, Juli ini atau Agustus sudah bisa kami selesaikan.” Artinya, target penyelesaian uji coba sendiri baru Juli–Agustus 2026 — belum bicara soal kapan tabung benar-benar beredar ke masyarakat, seperti yang disiratkan Laode. Antara juga mencatat data dari keterangan Bahlil: konsumsi LPG nasional rata-rata lebih dari 8,5 juta metrik ton (MT) per tahun, sementara produksi domestik hanya sekitar 1,91 juta MT, sehingga sekitar 7,47 juta MT harus dipenuhi lewat impor per tahun.
Data teknis dan ekonomi tabung
Kontan.co.id, dalam laporan yang lebih dulu terbit (28 Juni 2026), memberi rincian yang sejalan dengan infografis yang beredar: tabung CNG Merah Putih berkapasitas 3,8 meter kubik, setara dengan 3 kg LPG, terdiri atas komponen tabung, casing, dan valve penurun tekanan otomatis. Menurut Kontan, tabung dan casing diproduksi di Tiongkok, sementara valve penurun tekanan otomatis diproduksi di Jerman, dan seluruh tabung dirakit di Tiongkok. Laode Sulaeman, dikutip Kontan dalam sebuah diskusi bersama Aspebindo dan APLNCGI, menjelaskan alasan di balik dorongan konversi ini: “LPG selain harga harus disubsidi, kita harus beli, impor. Jadi ada dua (beban), subsidi iya, impor iya, ada devisa yang harus kita keluarkan.”

Kontan juga mencatat: Indonesia mengimpor lebih dari 80% kebutuhan LPG nasional, dengan volume sekitar 6,5–7 juta metrik ton per tahun, memaksa pemerintah mengeluarkan devisa hingga US$5 miliar dan menyedot APBN lebih dari Rp80 triliun per tahun untuk subsidi LPG 3 kg — angka yang secara substansi konsisten dengan yang tercantum di infografis, meski angka volume impor dari Antara (7,47 juta MT) sedikit lebih tinggi dari kisaran Kontan (6,5–7 juta MT); selisih kecil ini kemungkinan karena perbedaan periode data atau metode hitung, dan bukan indikasi kesalahan besar.
Harga LPG non-subsidi memang belum turun, dan program CNG Merah Putih — sesuai infografis maupun laporan Kontan, Antara, dan Bisnis.com — didorong terutama oleh beban impor LPG (>80% kebutuhan nasional, ~US$5 miliar devisa) dan subsidi (>Rp80 triliun/tahun). Namun soal kesiapan waktu, pengakuan Menteri ESDM sendiri lebih hati-hati dibanding klaim Dirjen Migas: program masih di uji coba tahap ketiga dengan target penyelesaian Juli–Agustus 2026, belum bicara kepastian peredaran tabung ke masyarakat.
sumber: CNBC Indonesia, Antara News, Bisnis.com, Kontan.co.id

