Pusat Riset Metalurgi BRIN merampungkan pengujian ketahanan korosi shape memory alloy steel — baja yang bisa “mengingat” dan kembali ke bentuk semula setelah dipanaskan — untuk kandidat material penguat beton infrastruktur sipil. Pengujian dipimpin oleh Peneliti Ahli Utama Efendi, dengan menyimulasikan lingkungan dalam beton menggunakan larutan alkali berbagai pH, mulai dari sangat basa hingga mendekati netral. Sampel diuji dalam dua kondisi: tanpa perlakuan dan setelah diberi pre-strain (deformasi awal yang lazim dilakukan untuk mengaktifkan efek pengingat bentuk).
Temuan utamanya berlapis. Pertama, kadar karbon dalam paduan terbukti menjadi pengungkit ketahanan korosi — semakin tinggi karbon, semakin cepat laju korosi, dan efek ini diperburuk ketika material sudah dideformasi lebih dulu. Kombinasi karbon tinggi plus pre-strain menghasilkan laju korosi tertinggi, ditandai aktivitas elektrokimia yang melonjak di permukaan akibat cacat mikro dan perubahan struktur. Kedua, lingkungan yang sangat basa justru menguntungkan: pada pH tinggi terbentuk lapisan oksida pelindung yang stabil di permukaan baja, menekan korosi. Di pH yang lebih rendah, lapisan ini goyah dan korosi lokal yang lebih agresif mulai bekerja.
Bagi BRIN, riset ini posisinya sebagai jembatan antara laboratorium dan kebutuhan industri konstruksi. Efendi menyebut SMA steel berpotensi diaplikasikan pada beton bertulang, sistem prategang, dan komponen struktural lain yang menuntut ketahanan tinggi terhadap beban dan lingkungan — sepanjang desain materialnya tidak hanya mengejar kekuatan mekanik dan kemampuan pemulihan bentuk, tapi juga ketahanan jangka panjang terhadap kimia beton.
Tiga Hal yang Tidak Ditegaskan dalam Rilis BRIN
Riset ini bagus, dan layak diapresiasi. Tapi rilis BRIN cenderung menonjolkan sisi “potensi besar” tanpa cukup membingkai batas-batas temuannya. Ada tiga catatan yang menurut saya penting ditambahkan supaya pembaca — terutama insinyur sipil dan pengambil keputusan infrastruktur — tidak menarik kesimpulan terlalu jauh.
Pertama, soal angka yang absen. Rilis BRIN bicara tentang “laju korosi paling tinggi” tanpa menyebut angka. Padahal di publikasi ilmiahnya (yang terbit di Journal of Umm Al-Qura University for Applied Sciences, Springer, 2025), angkanya konkret: laju korosi tertinggi tercatat 5,87 mpy (mils per year) pada sampel berkadar karbon 0,39% yang diberi pre-strain 30%, di lingkungan pH 8. Pengujian dilakukan pada tiga tingkat pH — 14, 10, dan 8 — bukan sekadar “sangat basa hingga mendekati netral” sebagaimana rilisnya. Detail ini penting: pH 8 itu bukan kondisi beton baru (yang biasanya pH 12–13), melainkan kondisi beton yang sudah mengalami karbonasi — proses penuaan ketika CO₂ atmosfer secara bertahap menurunkan pH beton. Jadi temuan BRIN sebenarnya berbicara tentang beton yang sudah menua, bukan beton segar. Framing ini hilang dalam rilisnya.
Kedua, faktor klorida tidak masuk skenario uji. Indonesia adalah negara kepulauan. Mayoritas infrastruktur strategis kita — pelabuhan, jembatan tol laut, jalan pesisir, bangunan dekat pantai — berada di lingkungan kaya klorida. Studi-studi pembanding pada Fe-SMA (termasuk dari peneliti Korea Selatan dan Eropa yang saya rujuk untuk verifikasi) menunjukkan pola yang konsisten: Fe-SMA memang unggul di lingkungan alkali murni, tapi rentan terhadap pitting corrosion ketika ada ion klorida — bahkan pada pH tinggi sekalipun. Artinya, rekomendasi “SMA steel cocok untuk beton bertulang” perlu kualifikasi geografis. Untuk infrastruktur pedalaman atau jauh dari laut, oke. Untuk dermaga Tanjung Priok atau jembatan Suramadu? Belum tentu, dan rilis BRIN tidak membatasi klaim aplikatifnya secara eksplisit.
Ketiga, ada paradoks desain yang belum terurai. Efek shape memory — alasan utama orang ingin pakai material ini — diaktifkan justru lewat pre-strain. Tapi temuan BRIN sendiri menunjukkan pre-strain memperburuk korosi. Ini bukan persoalan kecil: pengguna akhir dipaksa memilih antara fungsi (pemulihan bentuk yang aktif) dan ketahanan (umur pakai panjang). Solusinya mungkin pelapisan permukaan, optimasi komposisi karbon ke level lebih rendah, atau penyesuaian besar deformasi. Tapi rilis BRIN melompat dari temuan ke optimisme aplikatif tanpa menamai trade-off ini sebagai problem desain yang masih harus dipecahkan.
Yang sebenarnya menarik dari riset ini adalah ia memberi panduan kuantitatif bagi insinyur sipil: jika Anda menggunakan baja ingat bentuk pada struktur yang dirancang berumur 50–100 tahun, Anda harus mempertimbangkan bagaimana pH beton berubah seiring waktu, bukan hanya kondisi awalnya. Ini cara berpikir yang relatif baru dalam praktik desain beton di Indonesia, yang lebih sering memperlakukan “tahan korosi atau tidak” sebagai pertanyaan biner. Riset BRIN, kalau dibaca utuh dengan publikasi pendukungnya, sebetulnya menggeser pertanyaan itu menjadi: tahan korosi sampai kapan, di lingkungan seperti apa, dengan kompromi apa? Itulah kontribusi sebenarnya — lebih besar daripada sekadar “BRIN uji material maju.”
Catatan: Editorial ini merujuk pada publikasi ilmiah penuh tim peneliti BRIN di Journal of Umm Al-Qura University for Applied Sciences (Springer, 2025) untuk angka dan detail teknis yang tidak tercantum dalam rilis BRIN.
Sumber: BRIN

