5 Oktober 2026
Ditulis oleh: Charis Rohmadi
Resident Analyst MemNu
Tesis utama tulisan ini sederhana: negara tidak perlu meramalkan krisis untuk dapat mempersiapkan diri menghadapi krisis. Yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi dan mengurangi kerentanan strategis. Pengalaman Inggris dan Spanyol menunjukkan bahwa transisi energi yang dimulai dua dekade lalu pada akhirnya memperkuat posisi mereka menghadapi gejolak pasar energi global.
Inggris dan Spanyol tidak meramalkan perang Rusia-Ukraina, gangguan Bab el-Mandeb maupun potensi gangguan Selat Hormuz. Namun keduanya memahami bahwa ketergantungan berlebihan pada bahan bakar yang diperdagangkan secara global merupakan sumber kerentanan. Dalam konteks tersebut, transisi energi dapat dipahami sebagai strategi pengurangan risiko nasional.
Pada awal 2000-an, globalisasi menciptakan persepsi bahwa minyak dan gas akan selalu tersedia. Oleh karena itu, dekarbonisasi menjadi narasi yang dapat diterima publik untuk menjelaskan investasi besar dalam energi terbarukan. Namun manfaat yang dihasilkan ternyata melampaui pengurangan emisi. Kebijakan tersebut menghasilkan diversifikasi pasokan, pengembangan industri baru, serta peningkatan ketahanan energi
Tabel 1. Evolusi Pangsa Energi Terbarukan dalam Kelistrikan
| Negara | Tahun 2000 | Tahun 2010 | Tahun 2020 | Tahun 2024 |
| Inggris | ~3% | ~7% | ~43% | 50,4% |
| Spanyol | ~20% | ~33% | ~45% | 56,8% |
| Indonesia | ~20% | ~17% | ~15% | 18,1% |
Sumber: DUKES Inggris, Red Electrica de Espana, IEA/Ember. Angka historis dibulatkan untuk tujuan komparatif kebijakan.

Dari Dekarbonisasi ke Ketahanan Strategis
Analisis terhadap Inggris dan Spanyol menunjukkan bahwa dekarbonisasi merupakan salah satu tujuan, tetapi bukan satu-satunya tujuan. Dalam praktiknya, investasi pada energi angin, surya dan jaringan listrik juga mengurangi kebutuhan impor bahan bakar. Dengan demikian, ketika terjadi gangguan geopolitik, sebagian produksi listrik tetap berasal dari sumber domestik yang tidak memerlukan rantai pasok bahan bakar internasional.
Tabel 2. Aktual vs Kontrafaktual Saat Krisis Energi
| Indikator | Aktual | Tanpa Transisi Energi |
| Paparan harga gas global | Tinggi | Sangat tinggi |
| Kebutuhan impor bahan bakar | Lebih rendah | Jauh lebih tinggi |
| Ketahanan sistem | Lebih baik | Lebih rentan |
| Emisi | Lebih rendah | Jauh lebih tinggi |

Tabel 3. Ancaman versus Kerentanan
| Fokus Salah | Fokus Strategis |
| Apakah Hormuz akan ditutup? | Apa dampaknya bila Hormuz ditutup? |
| Apakah akan perang? | Apa kerentanan kita bila terjadi perang? |
| Apakah harga minyak naik? | Seberapa besar ketergantungan kita pada minyak? |
Pelajaran paling penting bagi Indonesia adalah perlunya memisahkan ancaman dan kerentanan. Ancaman sulit diprediksi. Kerentanan dapat diukur. Karena itu kebijakan strategis harus diarahkan pada pengurangan kerentanan yang tetap relevan dalam berbagai skenario masa depan.
Bagi Indonesia, kerentanan strategis yang perlu diperhatikan mencakup ketergantungan pada BBM impor, konsentrasi permintaan di Jawa, keterbatasan interkoneksi antarpulau, serta ketergantungan yang tinggi terhadap satu jenis sumber energi. Tidak satu pun dari kerentanan tersebut memerlukan kemampuan meramalkan krisis untuk dapat diatasi.
Inggris dan Spanyol memberikan pelajaran bahwa keberhasilan transisi energi tidak diukur dari kemampuan menghilangkan risiko. Bahkan saat ini kedua negara masih terpengaruh oleh harga energi global. Ukuran keberhasilannya adalah kemampuan memperkecil dampak guncangan tersebut terhadap ekonomi dan keamanan energi nasional.
Karena itu, transisi energi paling tepat dipandang sebagai kebijakan pengurangan risiko. Negara yang berhasil bukanlah negara yang mampu memprediksi masa depan secara tepat, melainkan negara yang mengurangi kerentanannya sebelum masa depan tersebut tiba.

