Society of Petroleum Engineers (SPE) Hydrogen Technical Section, dalam flyer brief-nya berjudul “Hydrogen as a New Energy”, memposisikan hidrogen sebagai pemain pivotal dalam transisi energi global. Hidrogen dinilai punya potensi untuk mendekarbonisasi industri berat, segmen tertentu transportasi, dan bagian sistem ketenagalistrikan, sekaligus mendukung stabilitas grid. SPE secara eksplisit menyoroti peluang khusus bagi industri minyak dan gas: keahlian eksisting dalam bahan bakar gas, jaringan pipa, penyimpanan, dan eksekusi proyek dianggap sebagai modal yang dapat dialihkan ke ekosistem hidrogen.
Tiga jalur produksi dipetakan: hidrogen abu-abu via Steam Methane Reforming (SMR) atau Autothermal Reforming (ATR) berbahan baku fosil dengan biaya USD 1–2/kg (paling murah, tetapi mengeluarkan 9–12 kg CO₂ per kg H₂); hidrogen biru — SMR/ATR plus carbon capture and storage (CCS) — yang memangkas emisi 60–95% dengan biaya USD 1,5–3/kg; dan hidrogen hijau via elektrolisis berbasis listrik terbarukan, USD 3–6/kg saat ini, dengan proyeksi turun di bawah USD 2/kg pada 2030. SPE menegaskan biru dan hijau bersifat komplementer dalam strategi net-zero.
Tantangan utama yang disebut flyer: hydrogen embrittlement pada pipa eksisting, batas blending hidrogen di jaringan gas alam yang umumnya di bawah 20%, energy penalty 20–40% pada penyimpanan dan transport, efisiensi power-to-power yang masih 25–35%, serta kebutuhan air 9–15 liter per kilogram hidrogen pada elektrolisis. SPE menutup dengan bottom line yang optimistik: hidrogen praktis dan dapat diskalakan sebagai jalur menuju masa depan energi yang lebih berkelanjutan, dan industri minyak-gas punya kapasitas untuk memimpinnya.
Bila Brosur SPE Dibaca Bersama Laporan IEA, Gambarannya Berbeda
Flyer SPE adalah dokumen advokasi yang ditulis oleh komunitas insinyur perminyakan untuk komunitas insinyur perminyakan. Itu bukan hal yang buruk — penting untuk industri dengan keahlian relevan mempersiapkan transisi. Tapi ketika dibaca berdampingan dengan IEA Global Hydrogen Review 2024 yang merupakan benchmark global terkini, tiga dari klaim SPE perlu dikualifikasi, dan satu hal penting yang justru luput dari flyer mendapat porsi besar di IEA.
Pertama, optimisme biaya hidrogen hijau perlu dikalibrasi ulang. SPE menulis “USD 3–6/kg saat ini, dengan potensi turun di bawah USD 2/kg pada 2030.” Angka SPE ini sudah ketinggalan. Biaya hidrogen hijau saat ini realistisnya berada pada rentang USD 4–12/kg — bukan USD 3–6 — dan proyeksi 2030 menurut IEA jatuh pada rentang USD 2–9/kg, bukan turun jauh di bawah USD 2/kg sebagaimana sugesti SPE. Lebih kontradiktif lagi: selama 12 bulan terakhir, biaya elektrolizer justru naik karena inflasi dan penyebaran teknologi yang lebih lambat dari ekspektasi, bukan turun. SPE menyajikan kurva biaya seolah-olah ia menurun secara monoton — kenyataannya kurva itu beberapa kali tahun terakhir bergerak naik. Untuk pembaca industri minyak-gas yang akan membuat keputusan investasi, perbedaan antara “USD 2/kg pada 2030” dan “USD 2–9/kg pada 2030” adalah perbedaan antara business case yang layak dan yang tidak.
Kedua, kerangka “biru dan hijau bersifat komplementer” menyembunyikan kompetisi pasar yang sebenarnya berlangsung. SPE mempresentasikan dua jalur ini sebagai dua pilihan sah yang saling melengkapi. Tapi menurut IEA, kesenjangan biaya antara hijau dan biru justru melebar, membuat hidrogen biru semakin menarik secara ekonomis hingga akhir dekade ini. Konsekuensinya: investasi yang seharusnya mengalir ke teknologi elektrolisis (kunci untuk hidrogen benar-benar bersih jangka panjang) dikalahkan oleh investasi pada SMR+CCS — yang mempertahankan ketergantungan pada gas alam, dan klaim emisinya bergantung sepenuhnya pada capture rate yang dalam praktiknya jarang tercapai 95%. Bagi industri minyak-gas, “biru” lebih nyaman karena ia mempertahankan model bisnis eksisting. Untuk transisi energi yang sebenarnya, ketergantungan terlalu dini pada biru bisa menjadi lock-in fosil dengan label hijau. arxiv
Ketiga, masalah paling serius yang tidak disinggung SPE: jurang permintaan. Ini bagian paling penting yang absen dari flyer. Permintaan hidrogen global 2024 mencapai hampir 100 juta ton, tapi mayoritas masih dipenuhi hidrogen produksi fosil tanpa langkah penangkapan emisi. Sektor pengguna tradisional — pengilangan minyak dan industri kimia — tetap konsumen terbesar. Pengambilan hidrogen rendah-emisi belum memenuhi ekspektasi yang ditetapkan industri dan pemerintah. Yang lebih mencolok: target produksi yang diumumkan pemerintah dunia mencapai 43 juta ton hidrogen rendah-emisi per tahun pada 2030, sementara target permintaan hanya 11 juta ton — sekitar seperempatnya. Tanpa pembeli yang berkomitmen, produsen tidak akan membangun. SPE membicarakan hidrogen seperti masalahnya hanya di sisi pasokan (produksi, infrastruktur, biaya). IEA menunjukkan masalah sebenarnya di sisi permintaan: siapa yang akan membeli ketika harga jualnya 2–4 kali lipat hidrogen abu-abu?
Keempat, skala pertumbuhan yang dibutuhkan adalah belum pernah terjadi. Untuk seluruh pipeline proyek terealisasi, sektor hidrogen perlu tumbuh dengan compound annual growth rate di atas 90% dari 2024 hingga 2030 — laju pertumbuhan yang belum pernah dicatat sektor manapun. Untuk konteks: PV surya pada fase pertumbuhan tercepatnya tumbuh sekitar 50–60% CAGR. SPE menulis “investasi global dan kapasitas produksi berkembang pesat” — kalimat yang benar tapi menyembunyikan magnitudo yang sebenarnya dibutuhkan. Bahkan dalam analisis IEA terbaru, potensi produksi hidrogen rendah-emisi pada 2030 telah direvisi turun dari 49 juta ton menjadi 37 juta ton akibat gelombang pembatalan proyek. Pipeline yang tampak sehat di atas kertas dalam praktik mengalami penyusutan.
Yang justru menarik dan layak diapresiasi dari flyer SPE adalah satu hal yang sering tidak diakui industri minyak-gas secara terbuka: pengakuan bahwa keahlian sektor minyak-gas (pipa, penyimpanan tekanan tinggi, manajemen proyek besar) dapat dialihkan ke ekosistem hidrogen. Ini bukan sekadar narasi reposisi — ini realistis. Industri yang sudah membangun jaringan LNG global selama tiga dekade memang punya modal teknis untuk melakukan hal serupa pada hidrogen. Pertanyaannya bukan kapasitas teknis, melainkan kapasitas politik: apakah industri ini akan mengejar transisi yang sungguh-sungguh, atau akan menggunakan label “biru” dan “abu-abu rendah-emisi” untuk memperpanjang umur aset fosil? Flyer SPE ditulis dengan asumsi yang pertama. Data IEA menunjukkan praktik aktual masih cenderung yang kedua.
Bagi pembaca yang mengikuti perdebatan transisi energi, takeaway yang lebih realistis dari dua sumber ini adalah: hidrogen punya peran nyata dan penting di sektor-sektor yang sulit didekarbonisasi (baja, pengilangan, pelayaran, kimia), tapi bukan solusi universal. Klaim “praktis dan dapat diskalakan” yang menutup flyer SPE perlu dibaca dengan kualifikasi: praktis di sektor industri yang sudah memakainya, sulit diskalakan ke sektor baru tanpa intervensi kebijakan yang masif. Dan untuk industri minyak-gas yang membaca flyer ini sebagai panduan investasi, pertanyaan paling penting bukan “bagaimana cara memproduksi hidrogen lebih murah” — melainkan “siapa yang akan membelinya, dengan harga premium yang masuk akal, dalam volume yang membenarkan investasi miliaran dolar?” Tanpa menjawab pertanyaan itu, hidrogen tetap akan jadi solusi yang menarik di slide presentasi tapi sulit jadi jalur investasi yang terkonfirmasi bankable.
Catatan: Editorial ini memverifikasi dan mengontekstualisasi klaim SPE Hydrogen Technical Section dengan IEA Global Hydrogen Review 2024 dan update IEA 2025 tentang revisi turun proyeksi produksi hidrogen rendah-emisi global akibat gelombang pembatalan proyek.
Sumber: SPE Hydrogen Technical Section, “Hydrogen as a New Energy” (flyer brief); IEA, Global Hydrogen Review 2024 dan rilis IEA 2025 tentang revisi proyeksi produksi hidrogen rendah-emisi.

