Pusat Riset Metalurgi BRIN tengah mengembangkan teknologi pengolahan ilmenit (FeTiO₃) untuk mengubah cadangan pasir mineral berat di pesisir Indonesia — dari Bangka Belitung, Sumatera, Kalimantan, hingga pantai selatan Jawa — menjadi material titanium bernilai tinggi. Periset Latifa Hanum Lalasari menjelaskan kepada Tim Komunikasi Publik BRIN pada 23 April bahwa selama ini ilmenit Indonesia mayoritas diekspor mentah, padahal pengolahan lanjutan dapat melipatgandakan nilai ekonominya dan membuka aplikasi luas dari pigmen industri hingga komponen baterai lithium-titanate.
Pendekatan teknologi yang dikembangkan menggabungkan hidrometalurgi dan pirometalurgi melalui kombinasi proses sulfat dan oksalat. BRIN memposisikan jalur ini sebagai alternatif terhadap proses klorinasi konvensional, dengan klaim lebih ramah lingkungan dan efisien. Ilmenit dilindi (leaching) untuk menghasilkan prekursor titanium, lalu dihidrolisis menjadi pigmen titanium dioksida (TiO₂). Latifa menekankan bahwa produk samping berupa limbah besi tidak dibuang melainkan diolah lanjut menjadi pigmen besi oksalat dan hematit, mengikuti prinsip circular production.
Riset ini sudah mencapai tahap semi-pilot, dan BRIN juga mulai mengembangkan sponge titanium — bahan dasar logam dan paduan titanium untuk industri strategis seperti alat kesehatan, dirgantara, kelautan, dan energi. Latifa menutup dengan target peningkatan skala menuju industrialisasi dan kolaborasi industri, menegaskan visi Indonesia bergeser dari eksportir komoditas mentah menjadi produsen sustainable materials.
Empat Pertanyaan yang Sebaiknya Dijawab Sebelum Riset Ini Dijadikan Narasi Hilirisasi
Riset BRIN ini berada di titik strategis: cadangan ilmenit Indonesia tercatat lebih dari 40 juta ton, sementara impor TiO₂ menurut data BPS tercatat 60.000–90.000 ton per tahun — atau sekitar 809.000 ton selama 2014–2023. Ada gap antara cadangan dan kemandirian yang besar, dan setiap riset yang menjanjikan menutup gap itu layak diapresiasi. Tapi rilis BRIN, menurut saya, menjual narasi terlalu mulus. Empat hal berikut perlu diuji ulang.
Pertama, soal klaim “sulfat lebih ramah lingkungan dari klorinasi” — ini perlu dikualifikasi. Literatur internasional, termasuk life cycle assessment yang diterbitkan di Journal of Cleaner Production dan studi industri TiO₂ China, secara konsisten menyimpulkan kebalikannya: proses klorinasi yang dominan di pasar global (lebih dari 60% produksi TiO₂ dunia) justru menghasilkan limbah lebih sedikit dan jejak lingkungan lebih baik per kilogram TiO₂. Proses sulfat tradisional menghasilkan limbah asam dalam jumlah besar dan FeSO₄ yang menyulitkan secara lingkungan. Yang masuk akal dari rilis BRIN bukanlah “sulfat lebih ramah dari klorinasi,” melainkan kombinasi sulfat-oksalat dengan daur ulang produk samping — itu memang versi sulfat yang dimodifikasi agar lebih bersih. Bedanya tipis tapi krusial: BRIN tidak menemukan jalur yang lebih bersih dari klorinasi secara umum, melainkan jalur sulfat yang dimodifikasi agar tidak sekotor versi konvensionalnya. Framing yang akurat akan menjaga kredibilitas riset ini di hadapan reviewer internasional.
Kedua, ekonomi politik di balik pilihan teknologi ini tidak dibahas. Klorinasi membutuhkan rutile berkualitas tinggi (TiO₂ >85%) sebagai bahan baku — yang mahal dan tidak banyak tersedia. Proses sulfat dapat menggunakan ilmenit kadar lebih rendah, yang persis seperti yang dimiliki Indonesia. Jadi pilihan BRIN bukan semata-mata isu lingkungan, melainkan juga pragmatisme bahan baku domestik. Ini sebenarnya argumen yang kuat — kenapa harus impor rutile kalau bisa pakai ilmenit lokal? — tapi rilis BRIN tidak mengangkatnya. Padahal pertanyaan rasional pertama dari investor industri pasti ini.
Ketiga, pertanyaan kapasitas yang absen. Smelter ilmenit pertama Indonesia di Bangka Belitung (PT Bersahaja Berkat Sahabat Jaya, investasi Rp 1,3 triliun) berkapasitas 100 ton per hari — atau sekitar 36.000 ton per tahun bila beroperasi penuh. Itu pun masih menghasilkan titanium slag, belum TiO₂ jadi. Sementara kebutuhan TiO₂ domestik bisa 60.000–90.000 ton per tahun. Riset BRIN baru di tahap semi-pilot. Jurang antara skala laboratorium dan skala industri dalam metalurgi adalah salah satu jurang tersulit di dunia teknik kimia — tidak otomatis terselesaikan dengan optimisme. Berapa lama dari semi-pilot ke pilot komersial? Berapa biaya kapital? Siapa investornya? Rilis ini diam soal angka.
Keempat, ironi sumber bahan bakunya sendiri. Ilmenit Bangka Belitung sebagian besar adalah produk samping penambangan timah. Penambangan timah di sana — menurut laporan WALHI 2023 — telah merusak 240.000 hektar mangrove dan lebih dari 5.000 hektar terumbu karang, dengan estimasi kerugian lingkungan sekitar Rp 271 triliun. Menyebut TiO₂ dari ilmenit ini sebagai sustainable material tanpa menyentuh ekologi tempat bahan bakunya berasal terasa seperti membahas hilirnya saja. Hilirisasi yang benar-benar berkelanjutan akan menanyakan: apakah ilmenit yang dipanen dari tailing tambang yang sudah ada (memanfaatkan limbah lama) atau dari tambang baru (menambah tekanan ekologi)? Jawabannya akan menentukan apakah label “berkelanjutan” itu sahih atau sekadar atribut produk.
Yang sebenarnya menarik dari riset ini adalah BRIN tampaknya menargetkan jalur yang masuk akal secara strategis: pakai bahan baku yang Indonesia sudah punya melimpah, modifikasi proses sulfat agar limbahnya termanfaatkan, kembangkan turunan dari TiO₂ pigmen sampai sponge titanium untuk implan medis dan kedirgantaraan. Ini bukan riset yang lemah. Yang lemah adalah cara riset ini dikomunikasikan ke publik — terlalu banyak superlatif, kurang angka, dan menghindari pertanyaan sulit. Padahal justru di pertanyaan-pertanyaan sulit itulah kontribusi riset publik seperti BRIN paling berharga. Kalau hanya optimisme yang dijual, peran BRIN sulit dibedakan dari brosur korporat.
Catatan: Editorial ini memverifikasi klaim teknis rilis BRIN dengan data USGS Mineral Yearbook (2022), data BPS impor TiO₂ 2014–2023, life cycle assessment industri TiO₂ yang diterbitkan di Journal of Cleaner Production, serta laporan WALHI 2023 tentang dampak penambangan timah Bangka Belitung.
Sumber: BRIN

