Pertemuan ini berfokus pada logam tanah jarang (REM) dan signifikansinya di sektor energi dan mineral Indonesia. Profesor Efendi dari BRIN menyajikan gambaran mendalam tentang REM, termasuk aplikasi mereka, metode pemrosesan, dan tantangan dalam mengembangkan industri domestik. Dia menyoroti potensi cadangan Indonesia dan kebutuhan akan kemajuan teknologi dan dukungan kebijakan untuk membangun industri REM yang berkelanjutan. Diskusi ini menyentuh upaya penelitian saat ini, peluang kolaborasi, dan pentingnya teknologi hijau dalam memproses REM. Pakar industri Rudi berbagi pengalamannya mengembangkan teknologi plasma dan inovasi terkait hidrogen, menekankan potensi kemandirian dalam produksi energi. Percakapan berakhir dengan panggilan untuk koordinasi yang lebih besar antara pemerintah, industri, dan peneliti untuk mengatasi implikasi geopolitik dari REM dan menumbuhkan ketahanan nasional.

