back to top
Sabtu, 16 Mei 2026

Mangrove di Jalur Kabel Laut Telkom: Strategi Lindungi Aset Energi-Digital dari Abrasi

Kegiatan

Aksi penanaman 10.000 mangrove dan transplantasi 2.000 terumbu karang oleh PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk di Lombok Utara pada peringatan Hari Bumi 2026 sebenarnya bukan sekadar gerakan lingkungan simbolik. Lokasi kegiatan berada persis di sekitar jalur Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Mandalika–Sanur — infrastruktur vital yang konsumsi energi dan jejak karbonnya menjadi salah satu sorotan terbesar sektor telekomunikasi global.

Kegiatan dilakukan di Pantai Pandanan, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, pada Kamis, 23 April 2026. Telkom menggandeng mitra strategis dan masyarakat setempat untuk menjalankan konservasi tersebut, yang diposisikan perusahaan sebagai bagian dari pilar “Save Our Planet” dalam program GoZero% — Sustainability Action by Telkom Indonesia.

Sudut pandang yang jarang ditonjolkan dari acara semacam ini adalah dimensi keamanan aset energi-digital. Operasional jaringan telekomunikasi Telkom — mulai dari Base Transceiver Station (BTS), Point of Presence (PoP), kabel laut, hingga data center — adalah konsumen listrik raksasa. Hingga 2024, konsumsi listrik dari energi terbarukan Telkom sepanjang 2021–2024 mencapai 126.448,20 Gigajoule, sementara total emisi gas rumah kaca perusahaan pada 2023 tercatat 1.724.335,18 ton CO2eq, turun sekitar 7 persen dari tahun sebelumnya. Yang menarik, sekitar 84 persen emisi tersebut berasal dari Scope 2 — emisi tidak langsung dari konsumsi listrik. Artinya, beban karbon Telkom melekat erat pada pasokan energi nasional yang mayoritas masih ditopang batu bara.

Mangrove dan terumbu karang yang ditanam di sekitar SKKL bukan hanya penyerap karbon biru, tapi juga pelindung alami pesisir dari abrasi yang berpotensi merusak kabel bawah laut. Kerusakan kabel laut berarti gangguan layanan, perbaikan dengan kapal khusus berbahan bakar fosil, dan tambahan emisi yang sebetulnya bisa dicegah lewat ekosistem pesisir yang sehat. Dengan kata lain, konservasi ini sekaligus berfungsi sebagai mitigasi risiko operasional dan efisiensi energi tidak langsung.

Konteks ini diperkuat oleh data sektor secara umum: industri telekomunikasi global menyumbang sekitar 2–3 persen total emisi karbon dunia — setara industri penerbangan. Di Indonesia sendiri, terdapat sekitar 94 pusat data dengan total kapasitas listrik mencapai 727,1 megawatt, dan pertumbuhannya bisa mencapai 20 persen per tahun. Telkom melalui anak usahanya NeutraDC menjadi salah satu pemain utama. Untuk menekan jejak karbon data center, Telkom telah menjalin MoU dengan PT PGN pada 10 April 2026 untuk pasokan biomethane dari limbah sawit, membeli 35.067 Renewable Energy Certificate (REC) untuk 69 Main PoP, serta menargetkan pembangunan panel surya berkapasitas lebih dari 14 MWp pada 2030.

Senior General Manager Social Responsibility Telkom, Hery Susanto, menegaskan bahwa pertumbuhan digital harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab lingkungan, dan perusahaan ingin “memastikan pembangunan infrastruktur digital tetap selaras dengan kelestarian alam.” Sementara VP Sustainability Telkom, Gunawan Wasisto Ciptaning Andri, menempatkan transformasi hijau sebagai panduan menuju target Net Zero Emission 2060, dengan sasaran antara berupa pengurangan 20 persen emisi GRK Scope 1 dan 2 serta penurunan konsumsi energi hingga 10 persen melalui modernisasi jaringan pada fase 2023–2030.

Implikasinya, narasi “konservasi pesisir” oleh perusahaan telekomunikasi tidak boleh dibaca terpisah dari neraca energinya. Penanaman mangrove di jalur SKKL adalah investasi ekologis yang juga melindungi rantai pasok energi-digital perusahaan; namun langkah ini akan kehilangan makna substantif jika tidak dibarengi percepatan transisi sumber listrik data center dari fosil ke energi terbarukan. Di sisi lain, publik perlu kritis: agenda transisi energi BUMN sebesar Telkom akan sangat bergantung pada bauran energi PLN, sehingga klaim “transformasi hijau” perusahaan sebagian besar berada di luar kendali langsung mereka.

Catatan transparansi: artikel asal di Kompas.com diterbitkan dalam kategori advertorial, sehingga sebagian narasinya mencerminkan perspektif perusahaan. Data tambahan mengenai komposisi emisi, REC, dan kemitraan biomethane diambil dari laporan keberlanjutan Telkom dan publikasi pihak ketiga untuk memberikan konteks yang lebih berimbang.

Sumber: Kompas

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img
Populer

Baja “Ingat Bentuk” untuk Beton: Kapan Tahan, Kapan Rentan

Pusat Riset Metalurgi BRIN merampungkan pengujian ketahanan korosi shape memory alloy steel — baja yang bisa "mengingat" dan kembali...
- Advertisement -spot_img

Berita Terkait

- Advertisement -spot_img